biting dusun dan
lentera senja
tiba mempercakapkan tanah-tanah sawah
yang kian susut
kerontang
busung dada yang makin sungsang
mencekik
antara lumpur sawah
kuli kebun
pelumas sekrup pabrik musiman
kuli panggul
atau
hantu-hantu ‘gelandangan’ kota
yang gentayangan
tapi mulia
oleh karena asa yang tiada matinya
tanah, upah, kerja


segi lain...................
Para pelancong, yang datang, akan melihat dua buah kota: satu muncul di atas danau, dan yang lainnya dipantulkan, terbalik. Tiada satu pun kehidupan yang terjadi di Valdrada pertama yang tidak diulang di Valdrada yang kedua, karena kota itu memang dibangun agar segala sesuatunya terpantul di cermin, dan Valdrada yang ada di bawah air tak hanya berisi semua galur dan tonjolan muka gedung yang ada di atas danau, tapi juga interior ruangan dengan langit-langit dan lantai, perspektif bangsal-bangsal, cermin-cermin lemari pakaian.
(Kota-kota Imajiner, Italo Calvino, Fresh Book 2006, hal 18)
Magic Fly Paula's Photostream - Invisible Cities
Novel “Invisible City” (edisi Indonesianya Kota-kota Imajiner) bagi saya dapat menghantar masuk ke dalam jiwa sebuah kota, memahami roh kota. Kota sebagai fenomena fisik, psikis sekaligus sosial.. Sementara Sunday Times menyebutkan karya ini sebagai “sebuah meditasi yang indah dan subtil”.
Saya mengajak anda untuk menikmati sejumput suasana meditatif ini dari petikan-petikan karya ini sekaligus dari seri karya fotografi Paula C "Magic Fly Paula's Photostream Invisible Cities" yang sengaja didedikasikan kepada Italo Calvino
=================================================
Kota-kota Imajiner adalah terjemahan karya Italo Calvino ”Invisible Cities” yang diterbitkan oleh Fresh Book. Buku ini adalah salah satu karya yang masuk dalam daftar bacaan prioritas penting saya saat ini.
Pertama, karena proyek saya untuk mempelajari fenomena sosial perkotaan. Kedua, karena minat saya pada sejarah. Setting novel ini adalah penuturan Marco Polo kepada Kubilai Khan tentang kota-kota yang ia kunjungi dalam berbagai ekspedisi yang dilakukannya
Novel ini dibagi dalam sembilan bagian, dimana pada tiap awal bagiannya dibuka dengan permenungan, percakapan dan dialog antara Marco Polo dan Kubilai Khan. Baru kemudian dilanjutkan dengan beberapa bab yang berisi penuturan Marco Polo tentang kota-kota yang ia kunjungi.
Namun demikian jangan salah duga, novel Kota-kota Imajiner ini bukanlah novel sejarah atau memiliki pendasaran ilmiah. Walaupun saya menduga tentulah Italo Calvino memang terinspirasi oleh catatan-catatan petualangan Marco Polo.
Paling tidak bagi saya buku ini dapat mengantar saya untuk masuk ke dalam jiwa sebuah kota, memahami roh kota. Kota sebagai fenomena fisik, psikis sekaligus sosial.
Disisi lain buku menjadi padanan yang menarik dari 2 buku sejarah yang belum lama ini diterbitkan oleh Elex Media Komputindo yakni Marco Polo “Dari Venezia ke Xanadu” (karangan Laurence Bergreen) dan Jalur Sutera “Dua Ribu Tahun di Jantung Asia” (karangan Frances Wood).
Adapun novel Kota-kota Imajiner sebenarnya menghadirkan gambaran kota-kota magis dan surealis. Saya tidak tahu benar apakah Italo Calvino memang mendasarkan kisah ini dari fakta-fakta, baru kemudian dari sana mengangkat jiwa kota ke dunia antah berantah, dunia magis sekaligus surealis.
Yang pasti saya sepakat dengan satu kutipan Sunday Times yang menyebutkan karya Italo Calvino sebagai “sebuah meditasi yang indah dan subtil”.
Untuk itu saya mengajak anda untuk menikmati sejumput suasana meditatif ini dari petikan-petikan karya ini sekaligus dari seri karya seni rupa fotografi Paula C "Magic Fly Paula's Photostream Invisible Cities" yang sengaja didedikasikan kepada Italo Calvino atas capaian cemerlang dari novel “Invisible Cities”.








0 komentar:
Poskan Komentar