Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) [@kerjapembebasan] mempersembahkan 100 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau ilustrasi) untuk mengenang atau sebagai penghormatan kepada WIJI THUKUL (Tribute to Wiji Thukul – MELAWAN LUPA) . Semoga ini bisa menjadi kado yang bermakna untuk Wiji Thukul, keluarga besarnya, sekaligus kado untuk rakyat Indonesia yang ditindas dan dimiskinkan. Di belakang gagasan ini kami juga memimpikan sajak-sajak Wiji Thukul dapat kembali menjadi inspirasi untuk meneguhkan perjuangan pembebasan kita dan menguatkan konsolidasi persatuan gerakan. hanya satu kata : LAWAN!

Minggu, 21 November 2010

Aku Butuh Puisi dan Peluru.

Akhir-akhir ini aku butuh dan dahaga sangat bersua puisi. Ya lepas dari tekanan-tekanan, frustasi, kekecewaan, keletihan. Tentunya rasa bermakna bergelut mengolah warta kepahitan (walau dengan sapuan pelangi belaka).

Siang tadi kutemukan itu dalam kumpulan puisi Nietzsche. Nietzsche adalahdinamit, gempa, prahara ‘Syahwat Keabadian’. Baiklah, bagaimana pun juga Wiji Thukul tak akan kulepaskan karena ‘Aku (tetap) Ingin Jadi Peluru’. Jadilah mata air seri karya rupaku berikut. Begitu diniatkan. Saut Situmorang dengan caci maki ‘Taik Kucing!’ juga masuk hitungan. Terutama seksi politik ‘Otobiografi’ (nya). Ada Marsinah, Thukul dan Munir disana.





Pada akhirnya memang tak kemana-mana, tak bisa lepas meninggalkan peluru. Hanya sekedar jalan memutar.

Aku Butuh Puisi dan Peluru. ( puisi ‘aku ingin mencintaimu dengan sederhana' -joko damono dan haiku jangan kemana-mana.)

Bookmark and Share

0 komentar: