Siang tadi kutemukan itu dalam kumpulan puisi Nietzsche. Nietzsche adalahdinamit, gempa, prahara ‘Syahwat Keabadian’. Baiklah, bagaimana pun juga Wiji Thukul tak akan kulepaskan karena ‘Aku (tetap) Ingin Jadi Peluru’. Jadilah mata air seri karya rupaku berikut. Begitu diniatkan. Saut Situmorang dengan caci maki ‘Taik Kucing!’ juga masuk hitungan. Terutama seksi politik ‘Otobiografi’ (nya). Ada Marsinah, Thukul dan Munir disana.

Pada akhirnya memang tak kemana-mana, tak bisa lepas meninggalkan peluru. Hanya sekedar jalan memutar.
Aku Butuh Puisi dan Peluru. ( puisi ‘aku ingin mencintaimu dengan sederhana' -joko damono dan haiku jangan kemana-mana.)








0 komentar:
Poskan Komentar