sobat bagi anda yang suka menulis fiksi ataupun non-fiksi entah prosa maupun puisi melalui social network facebook atau blog dll, atau untuk penulisan propaganda/kampanye kami memilki lebih dari 1000 gambar/lukisan digital yang bisa anda gunakan untuk ilustrasi karya-karya anda. rasanya akan lebih elok bila tulisan anda diperindah/diperkuat dengan ilustrasi ini. tentunya jangan lupa cantumkan link atau urlnya (galeri rupa lentera di atas bukit), dan pastinya diluar untuk tujuan komersial atau diperjualkan belikan. tabik andre


Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit



Jumat, 30 Juli 2010

jelang detik-detik proklamasi : merah putihku dan faktor X

SDSB : Siapa Dalang Semua Bencana? - lumpur lapindo, ledakan tabung gas, harga kebutuhan pokok makin mencekik , busung lapar, akses kesehatan buruk, bencana lingkungan, perampasan tanah-upah-kerja, penembakan petani, korupsi , kematian bayi dan ibu, fakir miskin anak terlantar dll...

Terus Bergerak! Bersatu, Bersarekat, Berlawan!

baca juga
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (1)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (2)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (3)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (4)
Seri Jerami dan ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (5)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (6)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (7)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (8)










Bookmark and Share

Gemerlap Kota Metropolitan – Mengejar Cahaya, Lantas Mati (Laron)? (2)

antara sawah, pabrik dan jalanan
biting dusun dan
lentera senja
tiba mempercakapkan tanah-tanah sawah
yang kian susut
kerontang

busung dada yang makin sungsang
mencekik

antara lumpur sawah
kuli kebun
pelumas sekrup pabrik musiman
kuli panggul

atau
hantu-hantu ‘gelandangan’ kota
yang gentayangan

tapi mulia
oleh karena asa yang tiada matinya
tanah, upah, kerja















segi lain...

“Kota kami dan langit saling berhubungan secara sempurna, “jawab mereka, “bahwa adanya perubahan di Andria melibatkan hal-hal baru yang terjadi diantara bintang-bintang.” Para astronom, setelah terjadinya segala perubahan di Andria, melakukan pengamatan lewat teleskop mereka dan melaporkan sebuah ledakan nova, atau sebuah titik jarak jauh dalam perubahan warna cakrawala dari oranye ke kuning, pemuaian nebula, perubahan arah sebuah spiral gugusan bintang Bima Sakti.

(Kota-kota Imajiner, Italo Calvino, Fresh Book 2006, hal 169)

Magic Fly Paula's Photostream - Invisible Cities


Novel “Invisible City” (edisi Indonesianya Kota-kota Imajiner) bagi saya dapat menghantar masuk ke dalam jiwa sebuah kota, memahami roh kota. Kota sebagai fenomena fisik, psikis sekaligus sosial.. Sementara Sunday Times menyebutkan karya ini sebagai “sebuah meditasi yang indah dan subtil”.

Saya mengajak anda untuk menikmati sejumput suasana meditatif ini dari petikan-petikan karya ini sekaligus dari seri karya fotografi Paula C "Magic Fly Paula's Photostream Invisible Cities" yang sengaja didedikasikan kepada Italo Calvino

=================================================


Kota-kota Imajiner adalah terjemahan karya Italo Calvino ”Invisible Cities” yang diterbitkan oleh Fresh Book. Buku ini adalah salah satu karya yang masuk dalam daftar bacaan prioritas penting saya saat ini.

Pertama, karena proyek saya untuk mempelajari fenomena sosial perkotaan. Kedua, karena minat saya pada sejarah. Setting novel ini adalah penuturan Marco Polo kepada Kubilai Khan tentang kota-kota yang ia kunjungi dalam berbagai ekspedisi yang dilakukannya

Novel ini dibagi dalam sembilan bagian, dimana pada tiap awal bagiannya dibuka dengan permenungan, percakapan dan dialog antara Marco Polo dan Kubilai Khan. Baru kemudian dilanjutkan dengan beberapa bab yang berisi penuturan Marco Polo tentang kota-kota yang ia kunjungi.

Namun demikian jangan salah duga, novel Kota-kota Imajiner ini bukanlah novel sejarah atau memiliki pendasaran ilmiah. Walaupun saya menduga tentulah Italo Calvino memang terinspirasi oleh catatan-catatan petualangan Marco Polo.

Paling tidak bagi saya buku ini dapat mengantar saya untuk masuk ke dalam jiwa sebuah kota, memahami roh kota. Kota sebagai fenomena fisik, psikis sekaligus sosial.

Disisi lain buku menjadi padanan yang menarik dari 2 buku sejarah yang belum lama ini diterbitkan oleh Elex Media Komputindo yakni Marco Polo “Dari Venezia ke Xanadu” (karangan Laurence Bergreen) dan Jalur Sutera “Dua Ribu Tahun di Jantung Asia” (karangan Frances Wood).

Adapun novel Kota-kota Imajiner sebenarnya menghadirkan gambaran kota-kota magis dan surealis. Saya tidak tahu benar apakah Italo Calvino memang mendasarkan kisah ini dari fakta-fakta, baru kemudian dari sana mengangkat jiwa kota ke dunia antah berantah, dunia magis sekaligus surealis.

Yang pasti saya sepakat dengan satu kutipan Sunday Times yang menyebutkan karya Italo Calvino sebagai “sebuah meditasi yang indah dan subtil”.

Untuk itu saya mengajak anda untuk menikmati sejumput suasana meditatif ini dari petikan-petikan karya ini sekaligus dari seri karya seni rupa fotografi Paula C "Magic Fly Paula's Photostream Invisible Cities" yang sengaja didedikasikan kepada Italo Calvino atas capaian cemerlang dari novel “Invisible Cities”.






Bookmark and Share

Gemerlap Kota – Mengejar Cahaya, Lantas Mati (Laron)? (1)

antara sawah, pabrik dan jalanan
biting dusun dan
lentera senja
tiba mempercakapkan tanah-tanah sawah
yang kian susut
kerontang

busung dada yang makin sungsang
mencekik

antara lumpur sawah
kuli kebun
pelumas sekrup pabrik musiman
kuli panggul

atau
hantu-hantu ‘gelandangan’ kota
yang gentayangan

tapi mulia
oleh karena asa yang tiada matinya
tanah, upah, kerja











segi lain...................

Para pelancong, yang datang, akan melihat dua buah kota: satu muncul di atas danau, dan yang lainnya dipantulkan, terbalik. Tiada satu pun kehidupan yang terjadi di Valdrada pertama yang tidak diulang di Valdrada yang kedua, karena kota itu memang dibangun agar segala sesuatunya terpantul di cermin, dan Valdrada yang ada di bawah air tak hanya berisi semua galur dan tonjolan muka gedung yang ada di atas danau, tapi juga interior ruangan dengan langit-langit dan lantai, perspektif bangsal-bangsal, cermin-cermin lemari pakaian.

(Kota-kota Imajiner, Italo Calvino, Fresh Book 2006, hal 18)

Magic Fly Paula's Photostream - Invisible Cities

Novel “Invisible City” (edisi Indonesianya Kota-kota Imajiner) bagi saya dapat menghantar masuk ke dalam jiwa sebuah kota, memahami roh kota. Kota sebagai fenomena fisik, psikis sekaligus sosial.. Sementara Sunday Times menyebutkan karya ini sebagai “sebuah meditasi yang indah dan subtil”.

Saya mengajak anda untuk menikmati sejumput suasana meditatif ini dari petikan-petikan karya ini sekaligus dari seri karya fotografi Paula C "Magic Fly Paula's Photostream Invisible Cities" yang sengaja didedikasikan kepada Italo Calvino

=================================================


Kota-kota Imajiner adalah terjemahan karya Italo Calvino ”Invisible Cities” yang diterbitkan oleh Fresh Book. Buku ini adalah salah satu karya yang masuk dalam daftar bacaan prioritas penting saya saat ini.

Pertama, karena proyek saya untuk mempelajari fenomena sosial perkotaan. Kedua, karena minat saya pada sejarah. Setting novel ini adalah penuturan Marco Polo kepada Kubilai Khan tentang kota-kota yang ia kunjungi dalam berbagai ekspedisi yang dilakukannya

Novel ini dibagi dalam sembilan bagian, dimana pada tiap awal bagiannya dibuka dengan permenungan, percakapan dan dialog antara Marco Polo dan Kubilai Khan. Baru kemudian dilanjutkan dengan beberapa bab yang berisi penuturan Marco Polo tentang kota-kota yang ia kunjungi.

Namun demikian jangan salah duga, novel Kota-kota Imajiner ini bukanlah novel sejarah atau memiliki pendasaran ilmiah. Walaupun saya menduga tentulah Italo Calvino memang terinspirasi oleh catatan-catatan petualangan Marco Polo.

Paling tidak bagi saya buku ini dapat mengantar saya untuk masuk ke dalam jiwa sebuah kota, memahami roh kota. Kota sebagai fenomena fisik, psikis sekaligus sosial.

Disisi lain buku menjadi padanan yang menarik dari 2 buku sejarah yang belum lama ini diterbitkan oleh Elex Media Komputindo yakni Marco Polo “Dari Venezia ke Xanadu” (karangan Laurence Bergreen) dan Jalur Sutera “Dua Ribu Tahun di Jantung Asia” (karangan Frances Wood).

Adapun novel Kota-kota Imajiner sebenarnya menghadirkan gambaran kota-kota magis dan surealis. Saya tidak tahu benar apakah Italo Calvino memang mendasarkan kisah ini dari fakta-fakta, baru kemudian dari sana mengangkat jiwa kota ke dunia antah berantah, dunia magis sekaligus surealis.

Yang pasti saya sepakat dengan satu kutipan Sunday Times yang menyebutkan karya Italo Calvino sebagai “sebuah meditasi yang indah dan subtil”.

Untuk itu saya mengajak anda untuk menikmati sejumput suasana meditatif ini dari petikan-petikan karya ini sekaligus dari seri karya seni rupa fotografi Paula C "Magic Fly Paula's Photostream Invisible Cities" yang sengaja didedikasikan kepada Italo Calvino atas capaian cemerlang dari novel “Invisible Cities”.



Bookmark and Share

Selasa, 27 Juli 2010

batu yang menggenggam luka, asa yang mendaku batu

Dan di atas batu karang ini, ..........keadilan sejati akan tegak!!!!”


kalian pikir mereka sekedar orang-orangan sawah, jerami dan ilalang kering

sejatinya seperti batu yang menggenggam luka, seperti asa yang mendaku batu

kulit legam rakyat pekerja, sesungguhnya padas batu karang itu

“ dan di atas batu karang ini, ...................keadilan sejati akan tegak!!!!”


Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (3)

baca juga
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (0)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (1)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (2)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (4)
Seri Jerami dan ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (5)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (6)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (7)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (8)


Terus Bergerak! Bersatu, Bersarekat, Berlawan!







Bookmark and Share

Senin, 26 Juli 2010

Indonesia, Tanah Airku, Tanah Tumpas Rakyatnya

Indonesia Raya Versi Istana Buto

Indonesia, Tanah Airku, Tanah Tumpas Rakyatku (ulangi!!)
Indonesia, Tanah Airku, Rampas Tanah Rakyatnya (ulangi!!)
Indonesia, Tanah Airku, Lumpur Hisap Rakyatnya
lanjutkan...............


Apabila engkau memaksa kami diam
Aku siapkan untukmu : PEMBERONTAKAN
(sajak suara - wiji thukul)


Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (2)

baca juga
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (0)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (1)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (3)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (4)
Seri Jerami dan ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (5)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (6)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (7)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (8)


Terus Bergerak! Bersatu, Bersarekat, Berlawan!




























Bookmark and Share

Hormat Bendera Kenaikan Harga, Diiringi Dentuman Meriam Tabung Gas 17 Kali!

Detik-detik Proklamasi.....Hormat Bendera Kenaikan Harga, Diiringi Dentuman Meriam Tabung Gas 17 Kali!

Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (1)

baca juga
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (0)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (2)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (3)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (4)
Seri Jerami dan ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (5)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (6)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (7)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (8)


Terus Bergerak! Bersatu, Bersarekat, Berlawan!






























Bookmark and Share

Kamis, 22 Juli 2010

Donal Bebek,Wiji Thukul,Subcomandante Marcos Titik Koma Zapatista,PRD,Walt Disney

”Tiap orang sedang bermimpi di negeri ini. Kini saatnya bangun..... Inilah badainya. Dari pertarungan dua arus angin ini badai akan terlahir, saat kedatangannya sudah menjelang. Kini angin dari atas sedang berkuasa, dan angin dari bawah sedang berhembus....Inilah ramalannya. Saat badai mereda, saat hujan dan api sekali lagi menyingkir pergi dari negeri yang damai ini, dunia tak bakal lagi berupa dunia namun sesuatu yang lebih baik.”



Sekali lagi ini soal penghayatan atas misi pembebasan, imaginasi, daya tahan, kecerdasan sosial dan daya pukul gerakan…….

Bacalah dengan pikiran dan hati yang terbuka, belajarlah dari mana saja dari siapa saja, jangan pandang bulu......................

Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana (7)

baca juga
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (0)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (1)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (2)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (3)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (4)
Seri Jerami dan ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (5)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (6)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (8)





(30 tahun, delapan bulan, dan dua puluh dua hari kekuasaan Orde baru ini), secara ekonomi, politik dan budaya tidak bisa diterima dan tidak bisa lagi dipertahankan oleh rakyat Indonesia. Terbukti : kaum buruh mulai melakukan pemogokan di berbagai kawasan industri; kaum tani melakukan aksi-aksi menentang penggusuran; para mahasiswa berdemontrasi menentang (penindasan) atas kebebasan akademik; para agamawan menolak (intervensi militer); para suku anak dalam di Papua Barat dan Kalimantan menantang penghisapan oleh Jakarta; Di Timor Timur, rakyat Maubere tidak pernah berhenti melawan penyerbuan militer dan (penjajahan) oleh rejim Orde Baru; rakyat Aceh dan Papua Barat menuntut hak penentuan nasib sendiri. Metode-metode perlawanan rakyat juga terus meningkat melalu aksi-aksi massa besar-gabungan antar sector masyarakat, menduduki DPR, menyerbu kantor polisi dan markas militer, konfrontasi dengan militer, hingga produksi selebaran-selebaran yang masif. Intinya : ketidakpuasan rakyat terjadi dimana-mana; rakyat sudah tidak rela hidup di bawah rejim Orde Baru. Sistem ekonomi, politik, budaya sekarang ini, yang dijaga oleh ..............(garda militer yang berlindung di bawah dwifungsi ABRI harus dicabut).... Militer menjarah lorong-lorong kehidupan masyarakat sipil, persis dengan hakekat kemiliterannya, sebagai penyandang senjata lebih-lebih dengan hakekat kemiliteran Orde baru – tak terusik oleh sejarah pencerahan abad pertengahan sekalipun. Masyarakat sipil modern yang bersenjata harus memiliki (otoritas mutlak terhadap militer), menjadikan militer (meminjam istilah masyarakat Perancis) sebagai si Raksasa Bisu la Grande Muette– (tak ada satu kata pun tentang politik –baca:kekuasaan- dari moncong senjata. Oleh karena itu : Rakyat harus mencabut dwifungsi ABRI).........





Menurut Daniel Dhakidae (Cendekiawan dan Kekuasaan, Gramedia 2003) dokumen yang dipublikasikan pada tahun 1996 ini luar biasa (cermati kata-kata di dalam kurung diatas). Pertama, membilang hari demi hari, 30 tahun, delapan bulan, dan dua puluh dua hari, yang dikuasai Orba dalam membina kekuasaannya bukan saja menarik perhatian akan tetapi menunjukkan intensitas penghayatan yang menakjubkan. Kedua, mengatakan bahwa ekspansi ke Timor-Timur sebagai penjajahan, pada tahun 1996, adalah suatu loncatan paradigma politik Indonesia seperti belum pernah dikumandangkan dalam kosa-kata politik Indonesia sampai hari itu. Ketiga, ini bukan yang pertama akan tetapi mengumumkan penghapusan Dwi Fungsi ABRI dan mengembalikan superioritas sipil dan membuat militer sebagai ’raksasa bisu’ adalah sesuatu yang hampir tak terbayangkan dalam politik Indonesia. Keempat, mengatakan bahwa sistem ekonomi, politik dan budaya ’yang ada sekarang sedang bangkrut” pada tahun 1996 mendekati suatu rangkaian ungkapan profetik bila dibandingkan dengan pembelaan Bank Dunia tentang fundamental ekonomi yang sehat. Namun, itu pula menjadi ungkapan profetik terdekat ketika seluruh sistem sosial, politik, budaya benar-benar bangkrut pada tahun 1998.....

Anak-anak muda yang mengeluarkan manifesto di 22 juli ini kemudian memposisikan diri memberi dukungan total terhadap Megawati sebagai pemimpin partai oposan yang sedang dihancurkan melalui penyembelihan militer terhadap para pengurus dan aktivisnya. Anak-anak muda PRD yang kemudian dilindungi oleh seorang pastor katolik inilah yang kemudian dianggap sebagai aktor intelektual rusuh pasca penyembelihan PDI oleh rejim Orba, dengan ancaman tembak ditempat.Inilah resonansi dan kulminasi kesadaran, dari virus jadi endemi bahkan pendemi semangat berlawan.

Maka syair Peringatan yang ditulis seniman melarat dan kurus krempeng Wiji Thukul tahun 1986 menemukan momentumnya dari energi menjadi cahaya ”Hanya ada satu kata : lawan!”.





Kata ’sakti’ ini, pekik perlawanan yang kemudian tidak saja diteriakan PRD tapi juga oleh mahasiswa dari segala kecenderungan ideologi, tapi juga guru, pekerja kerah putih, ibu-ibu, para lurah dan semua lapis masyarakat lain (bahkan yang memalukan juga oleh politisi reformis gadungan).

Demikian pula penghilangan paksa, penculikan, yang dialami banyak aktivis termasuk (yang terkasih alm?) Wiji yang kemudian dikeraskan resonansinya oleh (yang terkasih alm) Munir dengan Kontrasnya, terus menggulirkan bola salju perlawanan, perjalanan yang niscaya menuju penghapusan dwifungsi ABRI dan turunnya Soeharto.

Ini adalah contoh tentang daya ungkit, atau totok jarum di titik yang tepat, kecerdasan mengelola kata sebagai senjata, kecerdasan membaca konteks dan menemukan/menciptakan momentum.Bila disini ada ”Hanya Satu Kata : Lawan!, maka di Mexico ada ‘Ya Basta” yang tidak saja mengguncangkan dan menggerakan pro-dem di Mexico, tapi juga pemantik semangat berlawan yang masif terhadap imperialisme Amerika dan Neo-Liberalismenya diseluruh dunia terutama awalnya di Amerika Latin dan negara-negara maju”.



Cermati berikut iniDEKLARASI PERANG EZLN : Hari ini Kami serukan YA BASTA (Cukup Sudah)!

”Kami ini hasil dari 500 tahun perjuangan: pertama kami berjuang melawan perbudakan, lalu melawan Spanyol semasa perang kemerdekaan, kemudian dengan menolak dihisap oleh imperialisme Amerika Utara, lantas ketika meresmikan konstitusi kita dan mengusir pergi kekaisaran Perancis dari tanah ini.....Namun hari ini kami serukan “Ya Basta!”Kamilah ahli waris pendiri sejati negeri kita ini..........”

Maka bergeraklah Tentara Pembebasan Nasional Zapatista melakukan pemberontakkan di negara bagian Chiapas Meksiko Tenggara. Dalam waktu singkat Kotapraja San Cristobal de las Casas, ocosingo, Las Margaritas, Altamarino, Chanal, Oxchuc dan Huixan diduduki kaum pemberontak. Sejumlah gerilyawan dengan pimpinan Marcos, subcomandante bertopeng dengan caklong tembakaunya, pas pus, pas pus, dan dengan beribu halaman surat-suratnya, komunike, prosa, kisah dan dongeng-dongengnya yang luar biasa dan mampu mengubah dan menggerakan dunia.Hidup bersama-sama komunitas masyarakat adat dan bergerak secara dinamis, menguatkan identitas diri, komunitas, mereka-reka mimpi masa depannya dan mewujudkan mimpi mereka tentang tatanan masyarakat yang ideal. Dari semangat berlawan, menjadi semangat imaginatif dan kreatif menawarkan alternatif gerakan dan tatanan yang baru, keluar dari mindset yang ada (termasuk tirani cara pandang lama dan tirani ideologi-ideologi dominan).





Dalam penutup komunikenya disebutkan :
”Tiap orang sedang bermimpi di negeri ini. Kini saatnya bangun..... Inilah badainya. Dari pertarungan dua arus angin ini badai akan terlahir, saat kedatangannya sudah menjelang. Kini angin dari atas sedang berkuasa, dan angin dari bawah sedang berhembus....Inilah ramalannya. Saat badai mereda, saat hujan dan api sekali lagi menyingkir pergi dari negeri yang damai ini, dunia tak bakal lagi berupa dunia namun sesuatu yang lebih baik.”

Dalam tulisan lainnya Marcos menyatakan :”Konon kabarnya saat Michelangelo mamahat patung Daud, ia harus bekerja menggunakan bongkahan keramik ”bekas” yang telah berlubang-lubang di dalamnya. Hanya karena talentanya yang luar biasalah ia mampu menciptakan sosok yang bisa mengatasi kekurangan tersebut. Dunia yang ingin kita ubah telah tergarap oleh sejarah dan berlubang besar. Tidak bisa tidak, kita harus cukup inventif dalam mengubahnya dan membangun sebuah dunia baru. Jaga dirimu; dan jangan lupa bahwa gagasan juga merupakan senjata”.





Entah kenapa saya jadi teringat Jiminy Cricket (jangkrik bijak sahabat Pinokio), yang berujar ’mimpi adalah harapan yang dibuat oleh hati anda’. Demikian juga Walt Disney yang melegenda itu, dia menjelaskan keberhasilannya dengan empat kata Dream, Believe, Dare dan Do. ”Saya bermimpi, saya menguji mimpi saya dengan keyakinan saya, saya berani mengambil resiko, dan melaksanakan visi saya untuk membuat mimpi-mimpi tersebut menjadi kenyataan” Almarhun Walt ditahun 1954 juga pernah mengatakan ”Satu-satunya harapan saya adalah kita tidak pernah melupakan satu hal..... bahwa semua ini dimulai dari seekor tikus.”

Bila Pinokio punya sahabat Jiminy Cricket (jangkrik bijak itu), dalam dongeng, metafora, dialog reflektifnya Marcos juga punya sahabat bernama Don Durito ’seekor kumbang-ksatria-intelektual gabungan dari Don Quixote, Sherlock Holmes, Raja Arthur, bajak laut si janggut merah dan kritikus anti kapitalis pelahap karya-karya Umberto Eco’ (Ronny Agustinus 2005).


SalamKwik kwek kwak
Andreas Iswinarto

Imagine! Let’s dance together
Dream, Believe, Dare dan Do.


Bookmark and Share

Jumat, 16 Juli 2010

Khalisah Khalid: "FORI Ingin Mengisi Absennya Oposisi di Negeri Ini"

KETIKA rejim Stalinisme di Uni Sovyet dan Eropa Timur runtuh, Francis Fukuyama bersabda, “sejarah telah berakhir.” Tetapi, setelah lebih dari dua dekade, bukan sejarah yang berakhir, melainkan Neoliberalisme. Kebangkitan pemerintahan kiri di Amerika Latin dan krisis ekonomi 2008 adalah palu godam yang merontokkannya.

Sayangnya, di Indonesia, kebangkrutan rejim kapitalisme-neoliberal tidak diikuti oleh munculnya sistem baru yang bersifat alternatif. Islam politik, sebagai kelompok yang secara politik relatif kuat, terbukti gagap mengusung isu-isu kemanusiaan universal, pluralisme, keadilan ekonomi, dan demokrasi popular. Kelompok ini malah terjerambab pada isu-isu sektarian yang sempit, dan tidak punya kepedulian sedikit pun pada masalah hak asasi manusia baik di bidang politik, ekonomi, maupun budaya. Kegagapan Islam politik, terutama karena mereka gagal melakukan kritik mendasar terhadap cara kerja kapitalisme-neoliberal.

Di tengah kekosongan alternatif pemikiran dan praksis gerakan ini, gerakan progresif seharusnya muncul ke depan mengisi kekosongan itu. Kenyataannya, gerakan progresif masih terlalu kecil dan juga berserak-serak. Dalam konteks itu, kebutuhan akan persatuan menjadi tidak terelakkan. Inilah yang kemudian coba dilakukan oleh Front Oposisi Rakyat Indonesia yang disingkat For Indonesia (FORI). Lalu seperti apa bentuk organisasi dan program kerja FORI? Untuk mengetahuinya, Coen Husain Pontoh dari IndoPROGRESS mewawancarai Erwin Usman dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Khalisah Khalid dari Sarekat Hijau Indonesia (SHI), Anwar Ma’ruf dari Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP), dan Vivi Widyawati dari Persatuan Politik Rakyat Miskin (PPRM). Bagian kedua ini adalah wawancara dengan Khalisah Khalid, berikut petikannya

IndoPROGRESS (IP): Apa latar belakang yang membuat organisasi anda (Sarekat Hijau Indonesia/SHI) ikut bergabung atau ikut mendirikan FORI?

Khalisah Khalid (KK): Kesadaran untuk mengatasi persoalan fragmentasi, serta keniscayaan konsolidasi gerakan sosial dan perumusan platform perjuangan bersama adalah beberapa hal yang telah diupayakan berulang kali, yang hingga saat ini masih juga mengalami kegagalan.

SHI selalu terlibat dalam konsolidasi gerakan dengan dan upaya membangun kerja front yang bersifat permanen atau jangka panjang. Oleh karenanya, kami kembali terlibat untuk mendirikan Front Oposisi Rakyat Indonesia (FORI). Kami memandang momentumnya juga telah matang. Di satu sisi konsolidasi kekuasaan yang berwatak anti rakyat dan pro-neoliberalisme semakin menguat, di sisi lain absennya oposisi di negeri ini. Bahkan dalam manifesto kami tegas-tegas dinyatakan bahwa SAREKAT HIJAU INDONESIA akan membangun front gerakan massa progresif untuk menguatkan perjuangan rakyat Indonesia yang berwatak pembebasan demokratik nasional.

IP: Apa persamaan yang organisasi anda temukan dari organisasi lain yang turut bergabung dalam FORI?

KK: Persamaannya adalah adanya kesadaran bersama untuk mengatasi fragmentasi dan membangun persatuan gerakan. Kemudian juga kesamaan cita-cita politik atau watak gerakannya untuk melakukan perubahan yang radikal yang kemudian dirumuskan dalam slogan "Ganti Rezim Ganti Sistem".

IP: Bagaimana mengatasi perbedaan ideologi, politik, dan organisasi yang terdapat dalam FORI?

KK: Untuk mengatasi perbedaan ini pada periode awal konsolidasi ini haruslah difokuskan untuk menemukan apa yang menjadi kepentingan bersama atau titik temu/persamaan, dan bertumpu pada agenda atau pelaksanaan program bersama.

IP: Apa yang membedakan FORI dengan wadah-wadah aliansi sebelumnya?

KK: FORI berbeda karena front ini bersifat lebih permanen, berjangka panjang, dan politis. Front ini haruslah memiliki struktur hingga tingkat basis, dengan sistim pendidikan dan pengkaderan politik yang terintegrasi.

IP: Apa yang membedakan FORI dengan kelompok lain yang anti pemerintahan SBY-Bud?

KK: FORI tidak saja anti pemerintahan SBY-Boediono, tetapi juga anti terhadap semua partai-partai politik sebagai aktor yang bertanggungjwab atas penjarahan dan penghisapan rezim neoliberal.

IP: Apa tujuan yang ingin organisasi anda harapkan dengan membentuk FORI?

KK: Melalui FORI diharapkan propaganda dan pendidikan politik dapat dilakukan secara lebih massif, peningkatkan posisi tawar rakyat terhadap kekuasaan, serta munculnya kepemimpinan gerakan. Secara umum adalah meningkatkan kualitas gerakan, juga mentrasformasikan gerakan dari perjuangan sosial-ekonomi menjadi perjuangan politik.***

Bookmark and Share

Mengenang Joesoef Isak, 15 Juli 1928-15 Juli 2010

Selamat Ulang Tahun, Selamat Tidur Panjang

Wilson
Sejarawan dan teman dekat Joesoef Isak

PADA 14 Agustus 2009, sekitar lima kali saya menelpon rumah Joesoef Isak. Dari seberang, terdengar suara yang saya kenal sebagai Pembantu di rumah itu. Ia mengatakan, pak Joesoef tidak di rumah karena sedang kontrol ke rumah sakit. Joesoef Isak memang dalam beberapa bulan terakhir terkena penyakit agak berat. Tabung gas pernafasan disediakan di rumah, bersiaga bila beliau susah bernafas.

”Tolong sampaikan ke pak Joesoef bahwa Wilson tadi telpon dan besok siang akan mampir ke rumah,” pesan saya, setiap kali telpon diangkat.

Jumat siang, 15 Agustus 2009, saya datang menemui Joesoef Isak. Saya tak pernah menduga itulah pertemuan terakhir dengan beliau. Joesoef duduk di ruang tengah sambil menonton televisi. Tabung oksigen ada di sebelah kursinya. Desantara, anak bungsunya juga duduk di ruang tengah. Tubuh Joesoef kelihatan lemah. Wajahnya pucat. Saya duduk di kursi di sebelahnya.

”Ada apa bung, kemarin katanya berkali-kali telepon. Saya sedang ke luar, kontrol ke dokter,” ujar Joesoef dengan suara lirih.

Kedatangan saya hari itu memang punya dua tujuan. Pertama saya menjelaskan rencana untuk membawa Sitor Situmorang bertemu dan berdiskusi dengan beliau. Pertemuan itu adalah bagian dari film dokumenter yang dibuat kawan-kawan JAVIN dalam rangka ulang tahun Sitor Situmorang yang ke-85. Saya sendiri berharap Joesoef Isak dapat memancing berbagai pemikiran dan pengalaman Sitor berkait dengan Soekarnoisme dalam berbagai kurun sejarah.

”Bung dan Sitor sama-sama Soekarnois tulen, jadi diskusi antara bung berdua tentang Soekarno akan menjadi kerangka utama dari film kawan-kawan JAVIN,” ucap saya.

Ternyata Joesoef sudah beberapa tahun tak pernah bertemu fisik dengan Sitor. Jadi, kedatangan Sitor benar-benar disambut dengan antusias. Bahkan bu Asni, istri Josoef, akan menyiapkan makan siang bersama untuk merayakan pertemuan tersebut. Pertemuan akan dilakukan hari Sabtu, 16 Austus jam 11 siang.

”Besok siang saya akan bawa Sitor Situmorang kemari bersama Dolo Rosa Sinaga”, ujar saya. Dolo Rosa Sinaga adalah pematung terkemuka Indonesia.

Setelah urusan pertemuan dengan Sitor selesai, saya mengeluarkan sebuah fotocopy naskah dari tas ransel saya. Naskah itu kemudian saya sorongkan kepadanya.

”Bung saya membawa naskah yang sejak lama bung cari-cari, yaitu tentang Dewan Ekonomi (Dekon) yang menjadi strategi pembangunan yang dirumuskan oleh pemerintahan Bung Karno.” Naskah yang saya bawa adalah skripsi Amirudin, anak sejarah Universitas Indonesia. ”Di belakang ada lampiran konsep Dekon”, ujar saya.

Melihat naskah itu, Joesoef langsung berkomentar. Menurutnya, selama ini Soekarno dituduh oleh para pendukung Soeharto dan Orde Baru bahwa ia tak punya konsep pembangunan ekonomi. Soekarno hanya memikirkan mobilisasi politik dan ideologis untuk mempersatukan bangsanya. Bahka kajian-kajian tentang Soekarno sangat jarang membahas soal konsep pembangunan ekonomi yang sedang disiapkan oleh Bung Karno menjelang akhir kekuasaan konstitusionalnya.

Joesoef memegang naskah yang saya berikan. Ia memandang sejenak, membuka-buka halaman dan berhenti di lampiran konsep Dekon di bagian belakang buku.

”Dulu saya pernah punya naskah asli konsep Dekon ini. Buku kecil, sampulnya berwarna biru. Namun ketika saya kembali dari penjara, buku itu hilang. Baru sekarang ini saya melihat kembali naskahnya,” ujar Joesoef.

Menurut Joeosoef saat itu Soekarno sedang menyiapkan dua strategi besar untuk menyiapkan bangsanya agar ’berdaulat secara politik’ dan ’berdaulat secara ekonomi’ tanpa mengekor atau menjadi epigon kekuatan ekonomi politik global saat itu. Masih menurut Joesoef, dalam kedaulatan politik, Soekarno mengeluarkan konsep ’Demokrasi Terpimpin”, sebagai suatu konsep untuk mempertahankan ’persatuan’ dan kedaulatan bangsanya agar tak dikoyak-koyak oleh kekuatan neokolim. Saudara kembarnya adalah ’Dewan Ekonomi’, sebuah konsep pembangunan ekonomi yang menolak jalan kapitalisme yang pro pasar bebas, tapi juga tidak mengadopsi ekonomi negara ala komunisme yang sentralis. Ini merupakan komitmen bung Karno dalam merealisasikan apa yang ia sebut dengan kemandirian dalam ekonomi.

”Bung tahu siapa yang berada di belakang konsep penyusunan Dekon ini?" tanya Joeosef.

Saya menduga, karena saat itu bung Karno sedang menyatukan tiga kekuatan ’NASAKOM”, maka ketiga komponen pendukung politik bung Karno itulah yang merumuskannya.

”Bung keliru. Bukan orang PKI, bukan orang PNI yang membuat draft konsep Dekon ini. Tapi justru orang-orang dari PSI yang terlibat dalam perumusan draft konsepnya. Ali Wardana, yang kemudian menjadi konseptor ekonomi dan menteri keuangan dalam pemerintahan Orde Baru adalah orang yang ditunjuk Soekarno untuk memimpin proyek ini,” ujar Joesoef.

Menurut Joesoef, Dekon bukanlah sebuah bentuk ekonomi komunis yang sentralis, tapi lebih tampak sebagai sebuah konsep ’ekonomi kerakyatan’ yang menjadi amanat dari UUD 1945, dimana aset strategis bangsa dikuasai oleh negara dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat. Bila begitu, sepertinya Dekon lebih dekat dengan gagasan ’sosio-ekonomi’ (ekonomi sosial) yang menjadi gagasan lama Soekarno. Boleh dikatakan, gagasan sosio-ekonomi lebih dekat dengan gagasan-gagasan sosial demokrasi, hanya saja Soekarno menyesuaiakannya dengan kondisi ke Indonesia-an.

Joesoef lalu menyatakan ketertarikannya akan naskah skripsi Dekon tersebut dan berencana menerbitkannya melalui Hasta Mitra. Joesoef mengangap naskah Dekon ini sangat penting. Selama ini ada kesalahpahaman di kepala banyak orang bahwa Soekarno itu dianggap tak punya strategi ekonomi untuk pembangunan bangsanya. Dia hanya urus ideologi dan politik saja. Ini memang propaganda kotor yang sengaja dilempar untuk membedakan Soekarno dengan Soeharto. Faktanya, Soekarno juga punya konsep pembangunan ekonomi untuk bangsanya. Tapi sayang konsep pembangunan ekonomi Soekarno tak sempat dijalankan, karena dia keburu digulingkan oleh Orde Baru.

Justru Soeharto, yang menurut Joesoef tak punya konsep pembangunan ekonomi. Semua konsep ekonomi Orde Baru adalah cetak biru yang disiapkan oleh Bank Dunia dan IMF. ”Jadi tak heran bila kepentingan kapitalisme global menjadi majikan dalam strategi ekonomi orde baru. Sesuatu yang berkebalikan dengan konsep kemandirian ekonomi dalam strategi Dekon Bung Karno,” katanya.

”Oke bung hubungi penulisnya, saya yang akan cari ongkos cetaknya. Saya sendiri yang akan buat pengantar,” ucap Joesoef bersemangat, seperti lupa akan sakitnya.

Rencana penebitan buku itu, ternyata menjadi rencana terakhir Joesoef Isak. Beliau wafat sebelum penerbitan buku ini menjadi kenyataan. Saya sendiri bertekad suatu hari nanti akan menerbitkan naskah ini. Rencana penerbitan ini saya anggap sebagai ’hutang’ yang harus dipenuhi, sebagai penghargaan kepada Joesoef Isak. Dan paling penting lagi ”agar orang tidak keliru dan secara utuh memahami bung Karno,” ujar Joesoef Isak.


* * *
Saya sendiri, tak tahu dengan persis sejak kapan kenal dengan Joesoef Isak. Seingat saya, kunjungan pertama ke rumahnya di jalan duren tiga, Kalibata Selatan, terjadi sekitar awal tahun 1990-an. Saat itu saya mengantar Wiji Thukul. Tenyata Thukul sudah pernah berkunjung ke sekretariat Hasta Mitra tersebut. Saya sempat ragu, apa mungkin penyair rakyat dari Solo itu benar-benar tahu alamat Joesoef Isak. Thukul tampaknya membaca keraguan itu.

”Rumahnya itu gampang dikenali. Ada kotak surat berbentuk rumah minang,” ucap Thukul.

Ciri rumah yang saya temui 20 tahun lalu itu hingga kini belum berubah. Kotak surat yang sepertinya tak berfungsi itu menjadi penanda untuk mengenali rumah Joesoef Isak. Joesoef memang dari keluarga Minangkabau tulen. Jadi maklum bila simbol rumah gadang menghiasi pagar garasi rumahnya.

Inilah untuk pertama kali saya mendatangi kediaman Joesoef Isak. Setelah itu bila Wiji Thukul ke Jakarta, saya hampir selalu mengantarnya menemui Joesoef. Dalam pertemuan biasanya saya tak banyak cakap. Paling-paling hanya memberikan majalah Progress dan beberapa penerbitan gerakan. Biasanya Thukul yang bicara. Lalu setelahnya kami lebih banyak sebagai pendengar. Joesoef adalah seorang pencerita yang baik dan memukau.

Di akhir pertemuan Joesoef akan masuk ke dalam dan mengambil beberapa buku terbitan Hasta Mitra terbaru kepada Wiji Thukul. Tak lupa ia memberi tanda tangan di halaman muka. Saya sendiri, karena dianggap ’anak bawang’ saat itu belum mendapat jatah. Saya baru mendapat buku setelah pendirian Persatuan Rakyat Demokatik, Mei 1994. Kebetulan panitia mengirim saya untuk mengantar undangan deklarasi Persatuan Rakyat Demokratik ke rumahnya di Kalibata. Setelah menjelaskan sedikit tentang latar belakang pembentukan PRD dan siapa saja yang terlibat di dalamnya Joesoef tampak bersemangat sekali dan berjanji akan datang. Ia menepati janjinya, bahkan memberikan pidato sambutan. Setelah itu ia masuk ke dalam dan memberikan sebuah buku Hasta Mitra.

Beberapa pekerjaan bersama Joesoef juga sempat saya lakukan beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2002, Joesoef menghubungi saya untuk membantu penerjemahan dokumen pemerintah Amerika Serikat yang di dalamnya juga ada banyak fakta tentang peristiwa 30 September 1965 di Indonesia. Dokumen itu adalah keluaran departemen luar negeri (State Departement) yang berjudul Foreign Relations of the United States 1964-1968; Volume XXVI. Dokumen ini diterbitkan oleh United States Government Printing Office, Washington 2002.

Dokumen resmi pemerintah AS ini sebetulnya memuat dokumen-dokumen resmi menyangkut perkembangan politik dan sikap pemerintah Amerika Serikat di kawasan Indonesia, Malaysia dan Filipina sepanjang tahun 1964-1968.

Mendadak pada Juli 2002, pejabat di State Departement di Washington menarik kembali peredaran dokumen tersebut. Dokumen ini sempat di upload di situs National Security Archive (NSA) www.nsarchieve.org. State Departement lalu meminta NSA untuk menutup akses dokumen itu diinternet. Namun penyebaran dokumen via internet sudah tak dapat lagi dicegah. Dari situs inilah Joeosoef Isak mendownload dokumen ini lalu mencetaknya di kertas folio.

Dari periode 1964-1968 tersebut, peristiwa penggulingan Soekarno akibat peristiwa G30 September 1965, menjadi perhatian penuh pemerintah AS. Maklumlah, penggulingan Soekarno menjadi model bagi Amerika Serikat untuk mendukung rezim-rezim otoriter guna menjamin jalan kapitalisme global. Karena itu penarikan dokumen ini diduga untuk mengamankan relasi politik Amerika dan angkatan darat dan pemerintah Indonesia yang telah berjalan sangat dekat sejak tahun 1965.

”Dokumen ini harus segera diterjemahkan bung. Ini bukti bahwa pemerintah Amerika Serikat terkait dengan penggulingan Soekarno dan peristiwa 30 September 1965”, ujar Joesoef.

Saya sepakat seratus persen. Selama ini hanya ’analisa imajinatif’ dan teori konspirasi yang memenuhi tulisan sekitar 30 September 1965. Dokumen ini membuktikan bahwa peristiwa 1965 dan penggulingan Soekarno berkait dengan strategi politik pemerintah AS dan sekutunya Angkatan Darat pimpinan Soeharto di Indonesia.

”Saya tanggung resikonya bila Hasta Mitra nanti dapat masalah hukum dengan penerbit asli dan pemerintah Amerika Serikat nanti. Bung sanggup dalam waktu 2 bulan menyelesaikan terjemahanya ke dalam bahasa Indonesia ?”

Dokumen itu cukup tebal. Ketika dicetak menjadi buku tebalnya mencapai 648 halaman. Saya pun menyanggupi, tapi akan membentuk tim penerjemah untuk menyelesaikan proyek penting ini secara kilat. Lalu saya menghubungi Megi, Vidi, Irvan, Asep Salmin, Mugiyanto dan Hendra untuk membantu proyek terjemahan yang harus selesai dalam waktu kilat ini. Akhirnya, terjemahan selesai sesuai jadwal dan diterbitkan oleh Hasta Mitra pada bulan Agustus 2002 dengan judul ”Dokumen CIA: Melacak Penggulingan Sukarno dan Konspirasi G30S 1965”.

Meskipun saya tak begitu puas dengan hasil terjemahan ’keroyokan’ ini, tapi tetap bangga, karena sebuah fakta tentang hubungan antara pemerintah AS dengan politik Indonesia di tahun 1964-1968 dapat dipublikasikan kepada publik. Dengan buku ini, semakin benarlah ucapan Joesoef Isak dalam pengantar buku yang diberi judul ”Abad Intervensi adalah Abad Intelligence !”.

”Kecanggihan intelligence membikin orang-orang sipil dan militer yang digunakan tidak merasa digunakan, atau sebaliknya mereka memang sadar sepenuhnya digunakan, bahkan rela dan mau melayani induk-semang karena merasa sepaham dalam benak dan dalam hati. Di sini kita lihat bukan saja di bidang ekonomi dan kapitalisme berlangsung globalisme, tetapi juga di bidang ke-intel-en, intellegence”

Pekerjaan kedua yang juga secara dadakan ia berikan adalah ketika Hasta Mitra ingin menerbitkan biografi Soemarsono, tokoh dan pimpinan Peristiwa Madiun 1948 pada tahun 2008.

Menjelang bulan puasa pada Agustus 2008, Joesoef Isak menelpon saya untuk datang ke rumahnya bertemu dengan kawan dari Belanda, katanya. Dia tak memberi tahu tujuan pertemuan itu. Kawan dari Belanda itu ternyata sorang anak muda yang diutus oleh tim penulis biografi Soemarsono, untuk menerbitkan naskah itu di Indonesia. Baru saja saya duduk, sebuah fotocopy-an naskah tebal disorong kepada saya.

”Bung coba baca naskah ”Revolusi Agustus” Soemarsono ini. Dalam waktu sebulan bung saya harap bisa selesai membuat pengantarnya”, ucapnya tanpa menunggu jawaban dari saya.

Saya memang pernah mendengar soal proyek biografi ’Revolusi Agustus” Soemarsono ini, namun tak pernah terbayang sekalipun untuk memberikan pengantar. Ini bukan cuma pengantar, tapi ada beban ideologis, politik, dan histiografi sekaligus di dalamnya.

Saya mencoba mengelak awalnya dengan mempertanyakan pada Joesoef, ”kenapa saya? Bukankah banyak sejarawan hebat dan terkenal di luar sana yang pastinya akan dapat memberi pengantar ?”

Satu hal lagi yang membuat saya agak ’gugup’ dengan tugas membuat pengantar ini, karena Soemarsono secara keras mengritik karya sejarah yang baik dari Hesri, mantan tapol Pulau Buru tentang peristiwa Madiun. Terus terang, saya juga mengagumi karya Soemarsono ini, sebuah tulisan yang ditulis dengan metode sejarah dan bahasa yang mudah dicerna. Tetapi, saya juga pengagum dan respek dengan karya-karya Hesri. Saya tak mau pekerjaan membuat pengantar ini menciptakan problem baru bagi saya atau menciptakan kesalahpahaman.

Joesoef memahami kegamangan tersebut.

”Itukan interprestasi Soemarsono atas buku Hesri, kamu menulis bebas dan buat juga interprestasi sendiri sebagai sejarawan,” ujarnya meyakinkan saya.

Akhirnya, saya memberanikan diri menerima tugas membuat pengantar untuk buku Revolusi Agustus.

Beberapa hari kemudian, saya ditelepon mba Panti, anak Soemarsono bahwa ”bapak” ingin bertemu sambil makan siang bersama disebuah restoran di Pondok Indah Mall.

Dengan gugup dan kagum saya untuk pertamakalinya secara fisik bertemu dengan Soemarsono, salah seorang tokoh dalam peristiwa Madiun 1948. Pertemuan itu berdampak positif, saya mulai memahami cerita di balik naskah tersebut. Setelah buku ini terbit, saya dan keluarga Soemarsono tetap menjalin komunikasi. Bahkan kami sempat napak tilas sejarah Soemarsono di jaman revolusi di Surabaya dan Madiun. Sekarang saya punya obsesi untuk membuat dokumenter tentang Soemarsono untuk Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya dan Peristiwa Madiun 1948.

Akhirnya, selama bulan puasa saya mengumpulkan seluruh buku yang berkait dengan Peristiwa Madiun. Bahkan waktu mudik lebaran di Pekalongan saya habiskan untuk membaca naskah Soemarsono dan beberapa buku lainnya. Setelah lebaran dan pulang mudik dari Pekalonga,n pengantar itu-pun kelar dan langsung saya antar kepada Joesoef Isak di Duren Tiga. Joesoef akan membaca dan mengirimnya kepada Soemarsono.

Beberapa hari kemudian, Joesoef menelpon saya bahwa mereka berdua tak ada soal dengan pengantar tersebut. Jadi naskah sudah bisa dicetak. Setelah naik cetak buku diluncurkan dan disiskusikan di dua tempat yaitu di Gedung Joang 45 di Cikini dan di Teater Utan Kayu. Dalam kedua acara tersebut saya hadir sebagai pembicara. Sementara di Utan Kayu saya, Soemarsono dan Romo Baskoro dari Sanata Darma sebagai narasumber.

Bulan Agustus 2009, keluarga Soemarsono diundang Pemimpin tertinggi Grup Jawa Pos, Dahlan Iskan untuk napak tilas sejarah Soemarsono di jaman Revolusi. Saya ikut dalam rombongan keluarga sekaligus membuat dokumenter. Selama napak tilas memang tak ada persoalan. Persoalan muncul ketika kami sudah kembali ke Jakarta. Sebuah kelompok yang menamakan dirinya Front Anti Komunis, melakukan demo membakar buku itu dan menolak Soemarsono di kantor Jawa Pos.

Aksi pembakaran itu ternyata sanggup mengonsolidasikan dukungan untuk menolak aksi tak beradab membakar buku. Bonnie Triyana, Goenawan Mohamad, Andreas Harsono dan saya lalu menggalang petisi publik dan jumpa pers menolak pembakaran buku. Ribuan orang dalam waktu beberapa hari mendukung petisi tersebut.

Kerjasama saya dan Joesoef juga berlangsung ketika saya menerbitkan memoar penjara saya ”Dunia Di Balik Jeruji; Catatan Perlawanan” pada tahun 2005. Saya memintanya memberi pengantar pada buku tersebut dan ia tak keberatan. Bersama Xanana Gusmao, yang kini menjadi Perdana Mentri Republik Demokratik Timor Leste, Joesoef menuliskan pengantarnya.

Kunjungan yang paling membuat gundah adalah ketika ia sakit dan harus dirawat dirumah sakit pada awal tahun 2009. Usai dirawat inap, Joesoef berobat jalan dirumahnya. Saya mengunjungi Joesoef Isak bersama Nor Hiqmah istri saya, Irina ’Nyoto dan Faizah istri Max Lane, penerjemah tetralogi Pramoedya edisi Inggris.

Pertemuan tersebut membuat saya sangat sedih. Ini untuk pertama kali saya bertemu dengan Joesoef bukan di ruang kerjanya, ruang tamu atau ruang tengah keluarga. Juga tanpa kepulan rokok Jarum filter dari mulutnya. Joesoef kami temui di kamarnya dengan alat bantu pernafasan dan gas oksigen yang siap siaga disamping tempat tidurnya. Dia mencoba bicara dengan tetap bersemangat, tapi penyakit membuatnya tersengal-sengal dan harus bersuara lirih.

Tidak seperti biasanya, Joesoef membuka obrolan dengan menceritakan sejarah penyakitnya dan beberapa kejadian dimana ia sempat pingsan karena sesak nafas dan terkena serangan jantung. Gaya berceritanya seakan hendak mengatakan kepada kami. ” Jangan kuatir! Penyakit sudah sering datang, tapi saya tak pernah kalah, saya masih hidup dan berkarya sampai sekarang.”

Hari terakhir bertemu dengan beliau, ia masih tampak mencoba bersemangat. Seolah penyakit tak hinggap dibadannya. Joesoef sempat mengajak saya untuk ikut diskusi di majalah Tempo tentang tokoh PKI Nyoto. Kebetulan Tempo akan membuat edisi khusus tentang Nyoto. Dengan telpon genggam, Joesoef berkali-kali meminta pada pihak Tempo agar diskusi diadakan dilantai bawah. Dia menolak untuk diskusi kalau harus naik lantai segala. ”Saya sudah ngak kuat naik-naik tangga.”

Saya sebetulnya tertarik untuk hadir, namun terpaksa tak bergabung dengan diskusi Nyoto di majalah Tempo, karena ada rapat di sekretariat JAVIN di Manggarai.

Sebelum pulang bu Asni muncul. “Besok ketemu Sitor Situmorang sekalian makan siang. Sitor ada pantangan makan tidak? Tanyanya pada saya.

Kebetulan pada tanggal 16 Agustus saya berencana akan membawa Sitor Situmorang ke rumah Joesoef Isak sebagai bagian dokumener tentang Sitor Situmorang untuk memperingati hari ulangtahunya. Pertemuan itu memang akhirnya terjadi. Tapi Joesoef tak bisa lagi diajak diskusi. Beliau sudah wafat ketika Sitor Situmorang datang ke rumahnya diantar oleh Dolo Rosa Sinaga, pematung yang menjadi sehabatnya.

Sekitar jam 2 subuh, 16 agustus saya menerima pesan pendek yang mengabarkan tentang wafatnya Joesoef Isak dari Bonnie Triyana. Joesoef wafat sekitar jam 11 malam, 15 Agustus 2009. Hape saya yang kehabisan baterai baru saya buka sekitar pukul 05.00 WIB usai azan subuh.

Saya gemetar dan terhening beberapa saat. Kekuatiran saya bahwa Joesoef Isak akan pergi menuju perjalanan abadi akhirnya terjadi juga.

Sekitar jam tujuh pagi saya sudah datang di duren tiga, rumah duka keluarga Joesoef Isak.

Saya digandeng Desantara menuju jenazah Joesoef Isak yang berbaring di tengah ruangan. Ibu Asni saya peluk, ia lalu membimbing saya mendekati jenazah Joesoef. Saya menangis. Ketika berdiri, ibu Asni berbisik, ”Bapak wafat ketika sedang tidur...coba lihat dia seperti sedang tidur...”


* * *
Hubungan saya dan Joesoef sebetulnya lebih cocok sebagai ’guru’ dan ’murid’ atau sebagai seorang ’junior’ yang awam dengan ’senior’ yang sarat pengalaman. Meskipun mungkin Joesoef, karena sikap egaliternya tidak memandang dalam relasi seperti itu.

Sejak pertemuan pertama pada awal tahun 1990-an, saya sudah mempunyai kesan yang dalam atas orang ini. Dalam pertemuan-pertemuan selanjutnya kami lebih sering berdiskusi. Joesoef bukan tipe pendominasi. Ia mau mendengar beragam informasi tentang gerakan dan pendapat anak muda tentang isu yang sedang berkembang.

Bila Joesoef mempunyai analisa tertentu ia akan mengatakan di akhir penjelasan. ”Silakan bung boleh terima atau tidak. Bung boleh punya pendapat sendiri. Tapi inilah pendapat saya.”

Biasanya lebih sering saya setuju dengan pendapatnya. Berdiri dalam pendapat yang berseberangan boleh dikatakan hampir tak pernah. Bagi saya Joesoef adalah seorang ’guru politik’ terbaik yang pernah saya kenal. Pengetahuan dan jaringannya sangat luas.

Hal paling kuat dari Joesoef ketika memberikan analisa adalah pendekatan historisnya dalam memahami dan menganalisa peristiwa politik. Metode historis ini sangat memberi pengaruh dan menjadi acuan dalam tulisan-tulisan saya. Joesoef sering mengutip ucapan terkenal Bung Karno untuk metode itu ”Jasmerah” akronim dari ”jangan sekali-kali melupakan sejarah.”

Joesoef juga saya kagumi karena dapat diterima luas di kalangan jaringan dan lingkaran politik yang beragam. Sahabat dan tamu-tamunya di Duren Tiga datang dari lintas generasi, lintas ideologi, lintas kebangsaan dan lintas politik. Joesoef bisa dekat dengan Soebadio dan Goenawan Mohamad, dua orang intelektuil dari lingkaran PSI yang berpengaruh. Dulu ia pernah dikira sebagai aktivis PSI oleh kawan-kawan PKI-nya.

”Bung kira gampang apa masuk PKI. Bung kira PKI itu toserba (toko serba ada). Kibas dulu itu bung punya kelakuan borjuis kecil,” demikian ujar Joesoef mengenang sikap kawan-kawan PKInya diawal tahun 1960-an.

Memang gaya Joesoef saat itu dianggap mirip dengan gaya aktivis PSI. Kalau bicara diselingi dengan ceplas-ceplos bahasa Belanda, berdandan necis dan gemar musik klasik. Untuk musik klasik, justru Joesoef cocok dengan Nyoto, salah satu pimpinan teras PKI yang mulai tersingkir menjelang peristiwa 30 september 1965. Namun, sebaliknya, Joesoef juga menganggap orang PSI punya potensi untuk masuk PKI, misalnya Goenawan Mohamad. Dalam sebuah percakapan dikatakannya tentang Goenawan:

”Bila bung kenal dengan Nyoto pada saat itu, saya yakin bung akan masuk LEKRA. Bukan saya yang akan dipenjara, tapi bung yang seharusnya dikirim ke Pulau Buru,” ujar Joesoef, entah serius atau mau meledek Goenawan.

Hal lain yang PALING SAYA TELADANI adalah sikapnya yang ’low profile’ dan sangat rendah hati. Ia tak mau menonjol dan menampakkan diri sebagai ’aku’ yang dominan. Ia mengatakan tentang dirinya dengan istilah ”Saya ini hanyalah non-person.”

Bila sosok Pramoedya begitu kuat dengan ke ’aku-an’ dan bahkan menyatakan bahwa ideologinya adalah ”Pramisme”, maka Joesoef berdiri dalam posisi sebaliknya. Ia menganggap pengabdian, dedikasi dan apa yang ia kerjakan selama ini untuk Hasta Mitra dan kebudayaan adalah semacam ’pelayanan’ dan ’sumbangan tanpa pamrih’ untuk peradaban yang tak perlu disebut-sebut, apalagi dihargai secara materi. Perpaduan kedua watak ini menjadi kekuatan dalam Hasta Mitra.

Bagi saya, Joesoef seperti sudah mencapai tahap marifat eksistensi. Dimana ’aku’ sebagai diri sudah melenyap. Seperti yang ia ucapkan setelah keluar dari penjara Salemba:

”kawan
walau lambat terekam dalam hidupku
renungan menahun di sel salemba
nalar mulai mengembara sedalam-dalam pedalaman
politik, ideologi, cinta gairah menjadi serba usang
seketika cerah merekah gemerlapan".

Sikap rendah hati ia tunjukan secara total dalam Hasta Mitra. ”Bila Pramoedya mendapatkan penghargaan, maka saya merasa itu juga penghargaan buat Hasta Mitra dan saya pribadi.” Joeosoef memang patut bangga sebab memang ada kerja keras Joeosoef Isak sebagai editor atas naskah-naskah Pramoedya dari Pulau Buru dan naskah lainnya yang kemudian diterbitkan oleh Hasta Mitra. Bahkan ketika mendapat penghargaan dari Labor International Freedom to Publish Award di New York, 2004, ia menerimanya sebagai Hasta Mitra, mewakili ketiga pendirinya dan ’staf-staf’ yang membantu Hasta Mitra seperti Bowo, Kasto dan Sugeng. Bukan untuk dirinya pribadi.

Ketika saya, Bonnie Triyana dan Irina ’Nyoto’ menyiapkan acara peringatan ulang tahun ke 80 Joeosoef Isak, 13 Juli 2008, pada mulanya ia menolak. Joesoef merasa dirinya tidak pantas dibuatkan acara dan merasa malu dengan konsep acara yang kami rencanakan.

Bonnie Triyana, sejarawan muda berbakat dan cemerlang, akhirnya berhasil meyakinkan Joeosoef Isak. ”Acara ini adalah persembahan dari generasi muda dan sahabat pak Joesoef untuk memberi apresiasi atas apa yang bung lakukan selama ini. Kami yang akan menyiapkan semuanya. Pak Joesoef dan keluarga tinggal datang saja.” Penjelasan Bonnie akhirnya diterima. Acarapun kami persiapkan.

Di antara berbagai sikapnya, yang juga menurut saya langka, adalah filosofi untuk menganggap hal-hal material-ekonomis, BUKAN sebagai ukuran dan motif utama dalam sebuah pencapaian. Filosofi ini yang saya anggap sangat kental dalam memperlakukan Hasta Mitra. Pencapaian tertinggi Hasta Mitra bagi Joeosoef, bukanlah karena rekor tiras dan penjualannya, tapi karena terbitan-terbitanya memberi inspirasi bagi perjuangan demokrasi, kemanusiaan dan mencerdaskan bangsa.

Karena itu adalah SANGAT KELIRU bila ada pihak-pihak yang memberi ukuran ’material-ekonomis’ dalam memandang Hasta Mitra dan relasi di antara ketiga pendirinya. Pemberian nama Hasta Mitra juga mempunyai makna untuk membedakan diri dengan ’penerbitan profit’ yang berorientasi pasar semata. Saya kuatir analisa yang memandang Hasta Mitra sebagai suatu unit ekonomis, sebetulnya telah membunuh esensi dari pendirian Hasta Mitra yang digagas oleh tiga orang sahabat pendirinya. Pemahaman ini yang tampaknya gagal di tangkap, sehingga ’beberapa’ orang tak paham dengan sikap ’diam’ Joesoef Isak mengenai ’nasib’ Hasta Mitra belakangan ini.

Joesoef juga dikenal sebagai orang yang sulit mengatakan ”tidak” kepada orang lain yang minta bantuan. Setiap kali buku Hasta Mitra terbit, buku yang bertumpuk di rumah dengan gampang ia bagikan kepada kawan-kawannya yang datang, baik sesama mantan tapol atau aktivis dan tamu-tamu yang datang berkunjung ke rumahnya berkunjung. Semuanya diberikan secara cuma-cuma.

”Bahkan terkadang Ayah tidak punya copy aslinya. Semuanya ia bagikan kepada orang-orang,” ujar Desantara sambil mengambil contoh kasus buku ”Liber Amicorum; 80 Tahun Joeosoef Isak”.

Saat itu ada sekitar 300 buku yang ditaruh di rumahnya. Dalam waktu seminggu tumpukan buku itu lenyap. Bahkan Joesoef pun tak sempat menyimpan satu copy-pun untuk dirinya. Kasus yang sama terjadi dengan buku-buku Hasta Mitra lainnya yang ditumpuk di Duren Tiga Kalibata.

”Buat saya yang penting buku itu cepat dibaca orang dan isinya berguna. Jadi makin cepat terdistribusi makin baik,” ujarnya suatu ketika. Bagi Joesoef peran dari sebuah buku dan penerbitan adalah ’mencerdaskan dan memberi penyadaran’. Karena itu wajar bila ia tak pernah meletakan buku terbitan Hasta Mitra sebagai ’barang dagangan’. Ini mungkin kelemahan sekaligus kekuatan dari orang ’Padang’ yang tak pintar berhitung ekonomis ini. Karena itu setelah Hasjim Rahman, salah satu dari trio pendiri Hasta Mitra wafat di tahun 1999, Hasta Mitra tak lagi mengurus soal-soal distribusi dan penjualan. Joeseof tak sanggup dan menganggap itu sebagai hal yang kurang penting.

”Itu urusan Hasjim lah”, kilahnya. ”Saya ini paling tak bisa ngurus uang. Berapapun yang masuk pastilah menguap. Karena itu untuk urusan duit saya serahkan sepenuhnya pada Hasjim Rachman.”

Karena sikapnya yang tak ekonomis ini, Joesoef kadang sering disalahpahami olah orang lain. Karena itu wajar bila ada distributor yang berkesan memanfaatkan kelemahan ini secara tak beretika. Tindakan itu, menurut saya, telah menciderai nama baiknya. Namun Ia seperti membiarkan itu semua, tak mau meresponya.

”Peran Hasta Mitra menjadi kerdil bila soal-soal tetek bengek seperti itu juga diurus,” ujarnya.

Saya dapat memahami sikapnya. Namun tak dapat menyembunyikan kekecewaan dan kadang rasa jengkel kepada pihak-pihak yang kurang memahami persoalan ini dari cara pandang seorang Joesoef Isak.

Dan hal terakhir hal yang juga membuat saya tak habis kagum adalah KETEGUHAN nya pada ideologi tanpa harus bersikap dogmatis dan kaku. Ia mampu menggunakan berbagai pendekatan dan bahkan ’retorika’ dan ’teori’ untuk membela sosialisme. Kemampuan ini tentu saja berbasis pada kapasitas intelektual Joesoef dan pengalamanya dalam melihat politik sebagai sebuah ’seni’ yang memberi ruang-ruang untuk kreatifitas. Joesoef dapat berada dalam ruang ’ideologi lain’ namun justru untuk mencerahkan ideologi lawan atau paling tidak membuat respek dan menaruh hormat pada ideologi yang diyakininya. Secara simbolis ia menunjukan kepada berbagai piagam yang ia terima dan dipajang di ruang tamu.

“Ini semua piagam penghargaan mayoritas diberikan oleh negeri-negeri Barat yang berideologi Liberal. Mereka tahu bahwa di atas kepala saya ini telah dicap Komunis oleh penguasa Orde Baru!”

Joesoef juga menjadi membela Soekarnoisme yang gigih. Bahkan, kesan saya, beliau lebih militan dan lebih paham Soekarnoisme, ketimbang banyak orang yang kerap mengaku-ngaku dan menyitir nama Soekarno untuk kepentingan pragmatis dan politik kekuasaan belaka. Ia memperlakukan Soekarno sebagai negarawan, baik dalam pikiran dan tindakan. Dalam berbagai kesempatan berbicara, Joesoef mencela orang-orang yang mengaku Soekarnoisme tapi ANTI KOMUNISME. Bagi Joesoef seorang yang anti komunis, otomatis bukan Soekarnois. ”Mereka tidak tahu bahwa nasakom itu adalah pondasi politik Soekarno untuk mempersatukan dan membangun bangsa Indonesia.” ucapnya.

Dalam pengantar buku Bob Herring terbitan Hasta Mitra tahun 2005, ”Soekarno Bapak Indonesia Merdeka; Sebuah Biografi 1901-1945,” Joesoef mengatakan, banyak karya tentang Soekarno tidak menggambarkan siapa itu Soekarno secara utuh. "Obyeknya memang Soekarno, tetapi pertama-tama stempel selera dan warna-politik penulis sendirilah yang dapat kita detect, dapat langsung kita lihat belang penulisnya,” tulis Joesoef.


* * *
Pada 15 Juli 2010 ini, Joesoef akan berulangtahun yang ke 82. Tapi ulang tahun kali ini pasti tidaklah sama lagi. Joesoef telah wafat pada 15 Agustus 2009 dengan tenang di rumahnya. Bulan depan juga akan genap satu tahun kepergianya.

Satu tahun kepergiannya seperti menjadi titik akhir perjalanan Hasta Mitra. Keberlanjutan penerbitan ini sepertinya akan sulit direalisasikan. Meskipun banyak pihak yang akan menyayangkan, namun kita sepertinya ’terpaksa’ menerima kenyataan bahwa Hasta Mitra telah menjadi tonggak historis bagi ketiga pendirinya, juga dalam mencerdaskan bangsa ini. Jadi, biarlah ia akan terus dikenang demikian.

Joesoef Isak dan semua gagasannya akan terus hidup. Sekarang beliau sedang menjalani istirahat yang panjang, seperti ucapan bu Asni di hari wafatnya. ”Dia seperti sedang tidur...”***

Citayem, 15 Juli 2010

sumber : indoprogress.blogspot.com

Bookmark and Share

Kamis, 15 Juli 2010

Tukang Perahu, Arus Kali dan Gunung Batu

seratus bunga bermekaran, seratus gunung batu bersikukuh, menjaga alur dan alir sungai ke hilir kemenangan rakyat.

lalu yang harus dimiliki pergerakan kita, semestinya…..
Kesetiaan Tukang Perahu, Keteguhan Gunung Batu, Kesabaran Arus Kali dan Kelembutan Cahaya Bulan juga Kehangatan Matahari

Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (5)

baca juga
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (1)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (2)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (3)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (4)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (6)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (7)
Seri Jerami dan Ilalang Kering di Pekarangan Istana Buto (8)




















































Bookmark and Share