Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) [@kerjapembebasan] mempersembahkan 100 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau ilustrasi) untuk mengenang atau sebagai penghormatan kepada WIJI THUKUL (Tribute to Wiji Thukul – MELAWAN LUPA) . Semoga ini bisa menjadi kado yang bermakna untuk Wiji Thukul, keluarga besarnya, sekaligus kado untuk rakyat Indonesia yang ditindas dan dimiskinkan. Di belakang gagasan ini kami juga memimpikan sajak-sajak Wiji Thukul dapat kembali menjadi inspirasi untuk meneguhkan perjuangan pembebasan kita dan menguatkan konsolidasi persatuan gerakan. hanya satu kata : LAWAN!

Senin, 14 Februari 2011

Membela Anak-anak Indonesia. UPIK BUYUNG GUGAT!


upik buyung gugat! hom pi pah layung gambreng, taman-taman kota, taman-taman bermain untuk kami. (‘dolanan anak gugat’ : reclaim the wall, reclaim the street, reclaim your brain!)



jutaan anak ingusan, kurang gizi dan sekolahan (tapi tak kurang akalnya, tak kurang tangguhnya) telah mengambil alih ruang-ruang publik. atap-atap kereta, teti-tepi rel, tepi-tepi sungai, pasar, jalan raya, kolong tol, pelataran mall serta gedung kantor mentereng dan seluruh bagian kota adalah taman bermainnya sambil bertarung dengan kitab hukum penguasa dan tramtib. silent reclaiming. berlawan sambil bermain, bermain sambil berlawan! selengkapnya



jangan hancurkan pelangi belia itu dengan duka luka oleh karena ketamakan kalian! jangan gugurkan bunga wangi semerbak warna dengan duka luka oleh karena kebohongan/ tipu daya kalian! ciptakan taman bermain dan belajar penuh kasih dan damai untuk anak-anak Indonesia (serial ini terdiri dari 8 rangkaian gambar, cemerlang pelangi hingga duka luka yang mengeras) selengkapnya



Bayi Ini Kelak Hanya Memimpikan Indonesia Nyaman dan Penuh Warna sebagai Taman Bermainnya. Taman Bermain yang menumbuhkan perdamaian, persaudaraan, toleransi, solidaritas, kolektifitas serta mampu menciptakan keadilan, kesejahteraan dan lingkungan serta alam yang sehat lestari. Tapi Indonesia hari ini tak ubahnya sebagai ladang ‘pembantaian’, kebijakan, rezim dan sistim yang busuk sungguh membunuh rakyatnya. Kemiskinan, kelaparan, bencana lingkungan, buruknya pelayanan kesehatan, petani yang ditembaki, tkw yang dibunuh majikan, kriminalitas, terorisme hingga penghancurkan martabat dan harga diri.

Tapi sesungguhnya bila rakyat yang beragam warna (ras, suku, agama dan keyakinan bahkan bangsa) bangkit kesadarannya, bangkit semangat juangnya, bangkit persatuannya, bangkit organisasinya, Rujak dan Gado-gado Merah Putih mampu menjadi negara bermartabat, dihormati dan mampu memimpin bangsa-bangsa untuk menegakan kemerdekaan, kedaulatan, keadilan, kesejahteran dan pada akhirnya perdamaian dunia. Alih-alih Indonesia kini yang dipimpin oleh penguasa dan rezim yang bermental kuli di hadapan tuan-tuan modal dan bermental tuan bagi rakyatnya di sisi lain. Selengkapnya


simak juga

Menunggu Aba-aba : Bayi Bertato, Kepompong dan Pisau Sangkur



[MOHON DUKUNGANNYA. SHARING,TAGGING,SUGGESTING to FRIENDS & KEEP FIGHTING PLEASE] - hingga hari ini page galeri rupa lentera di atas bukit (kerja.pembebasan) telah mempublikasikan 704 dari 1000 karya yg direncanakan u.serial kampanye perjuangan keadilan sosial-hak asasi manusia, kami mengucapkan terima kasih atas dukungan 911 kawan & kunjungan (total post view) sebanyak 257.989.

sila kunjung Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan)


Bookmark and Share

0 komentar: