Galeri Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) mempersembahkan 50 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau sekedar ilustrasi) dalam rangka sebulan penuh mengenang atau sebagai penghormatan kepada Wiji Thukul (yang berulang tahun 26 Agustus) dan memperingati hari Anti Penghilangan Paksa Internasional (30 Agustus).
salam hangat, salam pembebasan
dan parpol-parpol
sibuk sendiri
mengurus entah apa....
Syair Keadaan - Wiji Thukul
kalimat-kalimat kotor
menghambur dalam gelap
membawa bau minuman
keringat tengik
dan kesumpekan
ibu-ibu megap-megap
mengurus dapur suami dan anaknya
harga barang-barang kebutuhan makin tinggi
kaum penganggur sambung-menyambung
berbaris setiap hari
dan parpol-parpol
sibuk sendiri
mengurus entah apa
leleran keringat dan kacaunya pikiran
keputusasaan dan harapan
yang dipompakan iklan-iklan
siang malam membikin tegang
dan disana kaum tani
dipaksakan menyerahkan tanahnya
dan disana pabrik-pabrik memecat
buruhnya, memanggil tentara
karena ada aksi mogok
di depan kantornya
dan parpol-parpol
sibuk sendiri
mengurus entah apa
hujan turun
got-got meluap
banjir datang
bingunglah rakyat
gunung-gunung digunduli
hutan-hutan dibabati
cukong-cukong kongkalikong
para birokrat mengantongi uang komisi
karena memberi lisensi
dan para pemilik modal besar
terus mengaduk-aduk
menguras mengisap isi perut bumi
dan parpol-parpol
halo!
selamat pagi!
hujan turun
got-got meluap banjir datang
menenggelamkan rumah-rumah rakyat
dan parpol-parpol
hallo!
kita nanti ketemu
dalam Pemilu
lima tahun lagi!
Solo, Jagalan
Kalangan, 02-02, 1989.
Hanya satu kata, lawan! Kalimat pendek itu lebih dikenali ketimbang Wiji Thukul, penyair yang menuliskan puisi perlawanan tersebut. Hanya satu kata, lawan! telah menjadi semacam roh bagi kebangkitan jiwa-jiwa yang mencoba menemukan kembali jati dirinya, yaitu sebuah kekuatan melawan rezim otoritarianisme. Ia telah menemukan api bagi sebuah simbol perlawanan (Munir)
Puisinya saya sukai karena melagukan amanat penderitaan rakyat yang harus saya dengar serius kalau saya masih ingin disebut rohaniwan (Romo Mangunwijaya)
Membaca puisi Wiji Thukul adalah membaca otobiografi kejiwaan penyair. Dia menceritakan nasib jutaan rakyat Indonesia yang dimiskinkan oleh proses pembangunan yang terlalu menguntungkan kaum elitnya (Arif Budiman)
Wiji sudah selayaknya mendpt penghargaan pertama-tama dan utama atas apa yang dilakukannya dalam pemajuan dan perlindungan hak azasi manusia. Penghargaan ini juga menjadi lonceng peringatan bagi kita semua bahwa penghilangan orang secara paksa adalah kejahatan yang masih berlangsung. Lonceng yang mengingatkan bahwa kita semua berutang kepada keluarga, sahabat, dan kekasih dari orang yang dihilangkan di negeri ini. Tentulah jangan dilupakan bahwa yang paling berutang adalah negara, terutama pemerintah (Asmara Nababan, Kompas 11/12/2002)
Mengenal Lebih Jauh Wiji Thukul (Artikel, Video dan Karya)








1 komentar:
wow this really good blog content
thanks for the blogs that do follow
Poskan Komentar