langit
yang putih
garing
asing
tak sengaja
mengabarkan matinya seorang buruh panggul*
(silahkan diganti dengan buruh tani, buruh pabrik dll)
tbc
muntah darah
tanpa rumah sakit
tanpa sanak saudara
tanpa tempat berteduh
tanpa perut
tanpa ktp
tanpa kartu raskin
tanpa npwp
tanpa agama
tanpa negara
siang
yang putih
garing
asing
dengan semburat merah muntah darah tbc itu
terperanjat
tergopoh-gopoh
dari lamunan merdekanya
berteriak tergagap dalam senyapnya
‘tanah air tumpah darah, tanpa api, tanpa suci, mampuslah mampus.....!’
malam
yang putih
garing
asing
tiba kemudian tanpa setitik hitam pun,
hanya gelegar geledar bola pijar api raksasa dengan lidah-lidah kilatnya
bertalu-talu-talu berderak-derak retakkan bumi....
maka genap sudah
butalah mata kita, tulilah telinga kita
lalu kita yang buta
tuli
dan bisu
terseok-seok
menghantarkan jenasah almarhum tanpa nama
ke pemakaman liar
dengan tertib, manis, santun, tanpa isak tangis...
bapak tua itu kemudian berbisik
‘sudah lumrah’
‘yang tidak lumrah adalah
kalian yang menusuk bola mata dan gendang telinganya sendiri
memotong lidahnya sendiri
menguburkan kata hatinya sendiri
dengan bilah-bilah bambu runcing
berbendera merah putih tanda berkabung dan menyerah'
bapak tua itu terisak teramat dalam
kemudian tersedak megap-megap
sekejab tanganya menggapai-gapai langit
lantas mati dengan raut sedih dan mengerikan
lalu menghilang begitu saja
ya, menghilang begitu saja
lama kemudian koran-koran kuning mengabarkan
seorang pejuang tua
bunuh diri di pemakaman liar itu
dengan bambu runcing kegetirannya
sambil memekik ‘merdeka’.
lalu secara misterius, ajaib, gaib, mistis
jasad pejuang tua itu terangkat
ke langit
hingga langitnya langit terakhir
yang putih
garing
asing
......................
cukup sudah
bakar-bakarlah puisi kelam ini
bangkit, bersatu, bersarekat, berlawan
merdekalah merdeka
a luta continua*
the struggle continues
berjuang tanpa lelah
berlawan hingga akhir
13 agustus 2011- andreas iswinarto
*a luta continua dipetik dari puisi Wiji Thukul berikut ini
TUJUAN KITA SATU IBU
kutundukkan kepalaku,
bersama rakyatmu yang berkabung
bagimu yang bertahan di hutan
dan terbunuh di gunung
di timur sana
di hati rakyatmu,
tersebut namamu selalu
di hatiku
aku penyair mendirikan tugu
meneruskan pekik salammu
"a luta continua."
kutundukkan kepalaku
kepadamu kawan yang dijebloskan
ke penjara negara
hormatku untuk kalian
sangat dalam
karena kalian lolos dan lulus ujian
ujian pertama yang mengguncangkan
kutundukkan kepalaku
kepadamu ibu-bu
hukum yang bisu
telah merampas hak ankmu
tapi bukan hanya anakmu ibu
yang diburu dianiaya difitnah
dan diadili di pengadilan yang tidak adil ini
karena itu aku pun anakmu
karena aku ditindas
sama seperti anakmu
kita tidak sendirian
kita satu jalan
tujuan kita satu ibu:pembebasan!
kutundukkan kepalaku
kepada semua kalian para korban
sebab hanya kepadamu kepalaku tunduk
kepada penindas
tak pernah aku membungkuk
aku selalu tegak
4 Juli 1997
50 Karya Rupa Tribute to Wiji Thukul : Kebenaran Akan Selalu Hidup
50 Karya Rupa Tribute to Wiji Thukul : Kebenaran Akan Selalu Hidup
50 Karya Rupa Tribute to Wiji Thukul : Kebenaran Akan Selalu Hidup
50 Karya Rupa Tribute to Wiji Thukul : Kebenaran Akan Selalu Hidup








2 komentar:
Puisi tentang tanah air dan kemerdekaan yang menarik, Komentar juga ya di blog saya www.indojobfair.com
wow this really good blog content
visit : http://uii.ac.id
Poskan Komentar