dipublikaskani kembali dalam rangka sebulan penuh memperingati ulang tahun Wiji Thukul yang jatuh pada tanggal 26 Agustus dan hari Anti Penghilangan Paksa Internasional yang jatuh pada tanggal 30 Agustus)
WIJI THUKUL, orang yang menulis kumpulan puisi ini, benar-benar tidak punya potongan seorang penyair. Wajahnya dan sosok tubuhnya lebih merupakan seorang pedagang asongan yang berkali-kali kena gusur. Atau buruh pabrik yang sering di-pehaka, yang hidupnya selalu rawan pangan.
Memang, Wiji anak seorang tukang becak yang lahir di kampung Sorogenen, Solo pada tahun 1963. Hidupnya berlumuran kemiskinan. Sampai sekarang, bapaknya masih tetap membecak, menelusuri jalan-jalan di kota antik ini. Beberapa sajaknya melukiskan penderitaan sang bapak.
aku sudah keliling kota
aku sudah kerja keras
tapi kalah dengan bis kota
hari ini aku cuma dapat uang setoran
(balada pak bejo)
Tapi, dia tidak pernah merasa malu punya bapak yang seperti ini. Bahkan, kepada kekasihnya, dia berpesan:
jangan lupa kekasihku
jika kau ditanya siapa mertuamu
jawablah: yang menarik becak itu
itu bapakmu kekasihku
(jangan lupa kekasihku)
selengkapnya
Tribute to Wiji Thukul (dan Semua Korban Penghilangan Paksa Lainnya) : KAWAN MOHON BANTUANNYA untuk menyebarluaskan publikasi artikel, puisi, video, karya rupa di blog ini dan page facebook Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit dalam rangka sebulan penuh memperingati ulang tahun Wiji Thukul 26 Agustus dan hari Anti Penghilangan Paksa Internasional yang jatuh pada tanggal 30 Agustus. ditunggu juga kontribusinya. salam hangat, salam pembebasan








0 komentar:
Poskan Komentar