Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) [@kerjapembebasan] mempersembahkan 100 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau ilustrasi) untuk mengenang atau sebagai penghormatan kepada WIJI THUKUL (Tribute to Wiji Thukul – MELAWAN LUPA) . Semoga ini bisa menjadi kado yang bermakna untuk Wiji Thukul, keluarga besarnya, sekaligus kado untuk rakyat Indonesia yang ditindas dan dimiskinkan. Di belakang gagasan ini kami juga memimpikan sajak-sajak Wiji Thukul dapat kembali menjadi inspirasi untuk meneguhkan perjuangan pembebasan kita dan menguatkan konsolidasi persatuan gerakan. hanya satu kata : LAWAN!

Selasa, 11 Oktober 2011

Perempuan Kekasih Malam (Puisi Ajeng Kesuma)

Perempuan Kekasih Malam




Perempuan itu rebah diatas hamparan pasir,
Dibawah langit bertabur sejuta bintang,
Pada malam dia bercerita,
Tentang jiwa, cinta, tawa, luka dan air mata,
Pada langit dia bertanya,
Tentang perempuan, rahim, janin dan kehidupan,

Perempuan itu rebah di tepian samudera,
Gemuruh ombak adalah nyanyiannya,
Matanya merah menyimpan bara,
Jiwanya adalah kesunyian telaga,
Dengan tubuh meringkuk dia memeluk perutnya,
Pada janin dalam rahimnya dia berkisah,
Tentang jiwa, cinta, tawa, luka dan air mata,

Perempuan itu rebah berselimut malam,
Pada sejarah kelam dia menyimpan bara,
Pada masa depan dia menggenggam asa,
Dia akan melahirkan anak sejuta bintang,
anak yang bermandikan cahaya bulan,
bapaknya adalah kehidupan,
yang mengajarkannya berjuang, melawan juga memafkan,

Perempuan itu rebah dengan luka yang menganga,
Dia masih menyimpan amarah,
Pada laki-laki yang menorehkan sejarah,
Yang mengenalkannya pada malam,
Dan meninggalkannya saat malam,
Seperti seorang pengecut,
Yang menyelinap saat peluh lepas bercinta,
Menghantarkannya pada lelap dan mimpi panjang,





Perempuan yang rebah itu,
Tertidur dalam dekapan malam,
Janin di rahimnya meringkuk dengan tangan terkatup,
Mengirimkan pesan pada kehidupan,
Agar cinta kembali dilahirkan,
untuk perempuan yang meminjamkan rahimnya,
dan memberinya makan lewat seutas tali pusar,
sambil terus bertanya;
‘’harus kusebut apakah perempuan, kekasih sang malam ini..?’’
‘’lukakah hatinya, jika aku memanggilnya IBU…?’’


Ajeng Kesuma, Bgr, 11.07.11

*lukisan andreas iswinarto

Bookmark and Share

5 komentar:

KETIKA ??? mengatakan...

mantapp ..

ADMIN CERITA SERU mengatakan...

Blog dan artikelnya bagus, komentar juga ya di blog saya http://ceritaserudewasa.blogspot.com

Ban Terbaik di Indonesia GT Radial mengatakan...

puisi yang sangat bagus,...

Belajar Photoshop mengatakan...

duhh bingung mau bilang gmn :( ?!?!

Admin Web mengatakan...

Numpang komentar nih, blog dan artikelnya bagus juga, komentar juga ya di blog saya www.memebee.net