sobat bagi anda yang suka menulis fiksi ataupun non-fiksi entah prosa maupun puisi melalui social network facebook atau blog dll, atau untuk penulisan propaganda/kampanye kami memilki lebih dari 1000 gambar/lukisan digital yang bisa anda gunakan untuk ilustrasi karya-karya anda. rasanya akan lebih elok bila tulisan anda diperindah/diperkuat dengan ilustrasi ini. tentunya jangan lupa cantumkan link atau urlnya (galeri rupa lentera di atas bukit), dan pastinya diluar untuk tujuan komersial atau diperjualkan belikan. tabik andre


Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit



Selasa, 16 Agustus 2011

Tanah Air, Tumpah Darah. Tanpa Api, Tanpa Suci, Mampuslah Mampus!

puisi u. mengenang proklamasi 17.8.45 (indonesia merdeka yang dihilangkan) dan Wiji Thukul (penyair merdeka yang dihilangkan 26.8.1963 - .....)





langit
yang putih
garing
asing
tak sengaja
mengabarkan matinya seorang buruh panggul*
(silahkan diganti dengan buruh tani, buruh pabrik dll)
tbc
muntah darah
tanpa rumah sakit
tanpa sanak saudara
tanpa tempat berteduh
tanpa perut
tanpa ktp
tanpa kartu raskin
tanpa npwp
tanpa agama
tanpa negara

siang
yang putih
garing
asing
dengan semburat merah muntah darah tbc itu
terperanjat
tergopoh-gopoh
dari lamunan merdekanya
berteriak tergagap dalam senyapnya
‘tanah air tumpah darah, tanpa api, tanpa suci, mampuslah mampus.....!’

malam
yang putih
garing
asing
tiba kemudian tanpa setitik hitam pun,
hanya gelegar geledar bola pijar api raksasa dengan lidah-lidah kilatnya
bertalu-talu-talu berderak-derak retakkan bumi....
maka genap sudah
butalah mata kita, tulilah telinga kita

lalu kita yang buta
tuli
dan bisu
terseok-seok
menghantarkan jenasah almarhum tanpa nama
ke pemakaman liar
dengan tertib, manis, santun, tanpa isak tangis...

bapak tua itu kemudian berbisik
‘sudah lumrah’
‘yang tidak lumrah adalah
kalian yang menusuk bola mata dan gendang telinganya sendiri
memotong lidahnya sendiri
menguburkan kata hatinya sendiri
dengan bilah-bilah bambu runcing
berbendera merah putih tanda berkabung dan menyerah'

bapak tua itu terisak teramat dalam
kemudian tersedak megap-megap
sekejab tanganya menggapai-gapai langit
lantas mati dengan raut sedih dan mengerikan
lalu menghilang begitu saja
ya, menghilang begitu saja

lama kemudian koran-koran kuning mengabarkan
seorang pejuang tua
bunuh diri di pemakaman liar itu
dengan bambu runcing kegetirannya
sambil memekik ‘merdeka’.
lalu secara misterius, ajaib, gaib, mistis
jasad pejuang tua itu terangkat
ke langit
hingga langitnya langit terakhir
yang putih
garing
asing

......................




cukup sudah
bakar-bakarlah puisi kelam ini
bangkit, bersatu, bersarekat, berlawan
merdekalah merdeka
a luta continua*
the struggle continues

berjuang tanpa lelah
berlawan hingga akhir


13 agustus 2011- andreas iswinarto

*a luta continua dipetik dari puisi Wiji Thukul berikut ini





TUJUAN KITA SATU IBU

kutundukkan kepalaku,
bersama rakyatmu yang berkabung
bagimu yang bertahan di hutan
dan terbunuh di gunung
di timur sana
di hati rakyatmu,
tersebut namamu selalu
di hatiku
aku penyair mendirikan tugu
meneruskan pekik salammu
"a luta continua."

kutundukkan kepalaku
kepadamu kawan yang dijebloskan
ke penjara negara
hormatku untuk kalian
sangat dalam
karena kalian lolos dan lulus ujian
ujian pertama yang mengguncangkan

kutundukkan kepalaku
kepadamu ibu-bu
hukum yang bisu
telah merampas hak ankmu
tapi bukan hanya anakmu ibu
yang diburu dianiaya difitnah
dan diadili di pengadilan yang tidak adil ini
karena itu aku pun anakmu
karena aku ditindas
sama seperti anakmu

kita tidak sendirian
kita satu jalan
tujuan kita satu ibu:pembebasan!

kutundukkan kepalaku
kepada semua kalian para korban
sebab hanya kepadamu kepalaku tunduk

kepada penindas
tak pernah aku membungkuk
aku selalu tegak
4 Juli 1997


50 Karya Rupa Tribute to Wiji Thukul : Kebenaran Akan Selalu Hidup
50 Karya Rupa Tribute to Wiji Thukul : Kebenaran Akan Selalu Hidup
50 Karya Rupa Tribute to Wiji Thukul : Kebenaran Akan Selalu Hidup
50 Karya Rupa Tribute to Wiji Thukul : Kebenaran Akan Selalu Hidup










Bookmark and Share

Selasa, 09 Agustus 2011

Syair Keadaan - Wiji Thukul

Tribute to Wiji Thukul dan Semua Korban Penghilangan Paksa Lainnya-Penculikan (6)

Galeri Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) mempersembahkan 50 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau sekedar ilustrasi) dalam rangka sebulan penuh mengenang atau sebagai penghormatan kepada Wiji Thukul (yang berulang tahun 26 Agustus) dan memperingati hari Anti Penghilangan Paksa Internasional (30 Agustus).

salam hangat, salam pembebasan

dan parpol-parpol
sibuk sendiri
mengurus entah apa....




Syair Keadaan - Wiji Thukul

kalimat-kalimat kotor
menghambur dalam gelap
membawa bau minuman
keringat tengik
dan kesumpekan

ibu-ibu megap-megap
mengurus dapur suami dan anaknya
harga barang-barang kebutuhan makin tinggi
kaum penganggur sambung-menyambung
berbaris setiap hari
dan parpol-parpol
sibuk sendiri
mengurus entah apa

leleran keringat dan kacaunya pikiran
keputusasaan dan harapan
yang dipompakan iklan-iklan
siang malam membikin tegang

dan disana kaum tani
dipaksakan menyerahkan tanahnya
dan disana pabrik-pabrik memecat
buruhnya, memanggil tentara
karena ada aksi mogok
di depan kantornya
dan parpol-parpol
sibuk sendiri
mengurus entah apa

hujan turun
got-got meluap
banjir datang
bingunglah rakyat

gunung-gunung digunduli
hutan-hutan dibabati
cukong-cukong kongkalikong
para birokrat mengantongi uang komisi
karena memberi lisensi
dan para pemilik modal besar
terus mengaduk-aduk
menguras mengisap isi perut bumi
dan parpol-parpol

halo!
selamat pagi!

hujan turun
got-got meluap banjir datang
menenggelamkan rumah-rumah rakyat
dan parpol-parpol

hallo!
kita nanti ketemu
dalam Pemilu
lima tahun lagi!

Solo, Jagalan
Kalangan, 02-02, 1989.






Hanya satu kata, lawan! Kalimat pendek itu lebih dikenali ketimbang Wiji Thukul, penyair yang menuliskan puisi perlawanan tersebut. Hanya satu kata, lawan! telah menjadi semacam roh bagi kebangkitan jiwa-jiwa yang mencoba menemukan kembali jati dirinya, yaitu sebuah kekuatan melawan rezim otoritarianisme. Ia telah menemukan api bagi sebuah simbol perlawanan (Munir)

Puisinya saya sukai karena melagukan amanat penderitaan rakyat yang harus saya dengar serius kalau saya masih ingin disebut rohaniwan (Romo Mangunwijaya)
Membaca puisi Wiji Thukul adalah membaca otobiografi kejiwaan penyair. Dia menceritakan nasib jutaan rakyat Indonesia yang dimiskinkan oleh proses pembangunan yang terlalu menguntungkan kaum elitnya (Arif Budiman)

Wiji sudah selayaknya mendpt penghargaan pertama-tama dan utama atas apa yang dilakukannya dalam pemajuan dan perlindungan hak azasi manusia. Penghargaan ini juga menjadi lonceng peringatan bagi kita semua bahwa penghilangan orang secara paksa adalah kejahatan yang masih berlangsung. Lonceng yang mengingatkan bahwa kita semua berutang kepada keluarga, sahabat, dan kekasih dari orang yang dihilangkan di negeri ini. Tentulah jangan dilupakan bahwa yang paling berutang adalah negara, terutama pemerintah (Asmara Nababan, Kompas 11/12/2002)

Mengenal Lebih Jauh Wiji Thukul (Artikel, Video dan Karya)

Bookmark and Share

Senin, 08 Agustus 2011

Rumput Ilalang - Puisi Wiji Thukul

Tribute to Wiji Thukul dan Semua Korban Penghilangan Paksa Lainnya-Penculikan (5)





Rumput Ilalang (Wiji Thukul)

hijau hijau
tumbuh lagi
walau kaubabat berulang kali
walau kaubakar berulangkali
hijau hijau
tumbuh lagi
sudah seratus kali kaucabut
kausemburkan api kerusuhan
hijau hijau
tumbuh lagi
harapanku
menaklukan
ketakutan
yang kauternakkan
lewat pidato
dan laras senapan

aku melihat ilalang
o sia-sialah
kekuasaan memasang
palang penghalang
ilalang





Hanya satu kata, lawan! Kalimat pendek itu lebih dikenali ketimbang Wiji Thukul, penyair yang menuliskan puisi perlawanan tersebut. Hanya satu kata, lawan! telah menjadi semacam roh bagi kebangkitan jiwa-jiwa yang mencoba menemukan kembali jati dirinya, yaitu sebuah kekuatan melawan rezim otoritarianisme. Ia telah menemukan api bagi sebuah simbol perlawanan (Munir)

Puisinya saya sukai karena melagukan amanat penderitaan rakyat yang harus saya dengar serius kalau saya masih ingin disebut rohaniwan (Romo Mangunwijaya)

Membaca puisi Wiji Thukul adalah membaca otobiografi kejiwaan penyair. Dia menceritakan nasib jutaan rakyat Indonesia yang dimiskinkan oleh proses pembangunan yang terlalu menguntungkan kaum elitnya (Arif Budiman)

Wiji sudah selayaknya mendpt penghargaan pertama-tama dan utama atas apa yang dilakukannya dalam pemajuan dan perlindungan hak azasi manusia. Penghargaan ini juga menjadi lonceng peringatan bagi kita semua bahwa penghilangan orang secara paksa adalah kejahatan yang masih berlangsung. Lonceng yang mengingatkan bahwa kita semua berutang kepada keluarga, sahabat, dan kekasih dari orang yang dihilangkan di negeri ini. Tentulah jangan dilupakan bahwa yang paling berutang adalah negara, terutama pemerintah (Asmara Nababan, Kompas 11/12/2002)


Mengenal Lebih Jauh Wiji Thukul (Artikel, Video dan Karya)

Galeri Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) mempersembahkan 50 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau sekedar ilustrasi) untuk mengenang atau sebagai penghormatan kepada WIJI THUKUL (Tribute to Wiji Thukul)

tujuan kita satu ibu : pembebasan (tribute to wiji thukul)




Bookmark and Share

Kemerdekaan - Wiji Thukul

Tribute to Wiji Thukul dan Semua Korban Penghilangan Paksa Lainnya-Penculikan. (4)





Kemerdekaan

Wiji Thukul


kemerdekaan

mengajarkan aku berbahasa

membangun kata-kata

dan mengucapkan kepentingan



kemerdekaan

mengajar aku menuntut

dan menulis surat selebaran

kemerdekaanlah

yang membongkar kuburan ketakutan

dan menunjukkan jalan



kemerdekaan

adalah gerakan

yang tak terpatahkan

kemerdekaan

selalu di garis depan*



Solo, 27-12-1988





Hanya satu kata, lawan! Kalimat pendek itu lebih dikenali ketimbang Wiji Thukul, penyair yang menuliskan puisi perlawanan tersebut. Hanya satu kata, lawan! telah menjadi semacam roh bagi kebangkitan jiwa-jiwa yang mencoba menemukan kembali jati dirinya, yaitu sebuah kekuatan melawan rezim otoritarianisme. Ia telah menemukan api bagi sebuah simbol perlawanan (Munir)

Puisinya saya sukai karena melagukan amanat penderitaan rakyat yang harus saya dengar serius kalau saya masih ingin disebut rohaniwan (Romo Mangunwijaya)

Membaca puisi Wiji Thukul adalah membaca otobiografi kejiwaan penyair. Dia menceritakan nasib jutaan rakyat Indonesia yang dimiskinkan oleh proses pembangunan yang terlalu menguntungkan kaum elitnya (Arif Budiman)

Wiji sudah selayaknya mendpt penghargaan pertama-tama dan utama atas apa yang dilakukannya dalam pemajuan dan perlindungan hak azasi manusia. Penghargaan ini juga menjadi lonceng peringatan bagi kita semua bahwa penghilangan orang secara paksa adalah kejahatan yang masih berlangsung. Lonceng yang mengingatkan bahwa kita semua berutang kepada keluarga, sahabat, dan kekasih dari orang yang dihilangkan di negeri ini. Tentulah jangan dilupakan bahwa yang paling berutang adalah negara, terutama pemerintah (Asmara Nababan, Kompas 11/12/2002)


Mengenal Lebih Jauh Wiji Thukul (Artikel, Video dan Karya)

Galeri Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) mempersembahkan 50 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau sekedar ilustrasi) untuk mengenang atau sebagai penghormatan kepada WIJI THUKUL (Tribute to Wiji Thukul)

tujuan kita satu ibu : pembebasan (tribute to wiji thukul)



Bookmark and Share

Minggu, 07 Agustus 2011

Sajak Kota - Wiji Thukul

Tribute to Wiji Thukul dan Semua Korban Penghilangan Paksa Lainnya-Penculikan. (3)



Sajak Kota - Wiji Thukul

kota macam apa yang kita bangun
mimpi siapa yang ditanam
di benak rakyat
siapa yang merencanakan

lampu
lampu
menyibak jalan raya
jalan raya dilicinkan
diaspal oleh uang rakyat
motor-motor mulus meluncur
merek-merek iklan
merek-merek iklan
di atap gedung
menyala
berjejer-jejer
toko roti
toko septu
berjejer-jejer
salon-salon kecantikan

siapa merencanakan
nasib rakyat

.........



Mengenal Lebih Jauh Wiji Thukul (Artikel, Video dan Karya)

Galeri Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) mempersembahkan 50 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau sekedar ilustrasi) untuk mengenang atau sebagai penghormatan kepada WIJI THUKUL (Tribute to Wiji Thukul)

tujuan kita satu ibu : pembebasan (tribute to wiji thukul)




Bookmark and Share

Jumat, 05 Agustus 2011

Kumpulan Artikel Tentang Wiji Thukul - Penyair Kampung Berjiwa Merdeka

dari Arief Budiman, Munir, YB Mangunwijaya, Tempo, Asep Sambodja, A Kohar Ibrahim, JJ Kusni, Isa Ibrahim, R Vonder Borch, Linda Christanty, Wilson, Dian Purba, Andreas Iswinarto, Yoseph Yapi Taum, I Gusti Agung Anom Astika, Wahyu Susilo,Sayono El-Jawy...





Wiji Thukul – Munir SH

Wiji Thukul Penyair Kampung - Arief Budiman

Menghargai Penyair Berjiwa Merdeka : Wiji Thukul – A Kohar Ibrahim

Wiji Thukul Wijaya - R. Von der Borch dan kumpulan artikel lainnya

Memang Wiji Thukul saya kenal sejak lebih dari 10 tahun yang lalu, dan terakhir berjumpa di padang kampus Monash University kira-kira empat tahun yang lalu. Ia sedang tour puisi. Pusinya saya sukai karena amanat penderitaan rakyat yang harus saya dengar serius kalau saya masih ingin disebut rohaniwan. (YB Mangunwijaya). Artikel selengkapnya....

Hilang tapi Terus Berjuang - Tempo

Wiji Thukul : Sekali Berarti Sudah Itu Mati - Asep Sambodja

WIJI THUKUL: SETITIK CAHAYA KEBENARAN - Yoseph Yapi Taum

Pemilu dalam Puisi-Puisi Wiji Thukul - Wahyu Susilo

Wiji Thukul dan Orang Hilang - LINDA CHRISTANTY

Wiji Thukul : Hanya Ada Satu Kata, Hilang ! – Wilson

Wiji Thukul, Dihilangkan tetapi Tetap Hidup - I Gusti Agung Anom Astika

WIJI THUKUL PEMIMPIN KAUM TERTINDAS - Sayono El-Jawy

AMSTERDAM MENGGELAR MALAM "WIJI THUKUL" – Ibrahim Isa

ENAM TAHUN LALU KETIKA TELEPON BERDERING, Mengenang Pertemuan Terakhir Dengan Wiji Thukul, Sobatku Yang Hilang – JJ Kusni


Wiji Thukul dan Puisinya – Dian Purba

“AKU INGIN JADI PELURU” KUMPULAN PUISI WIJI THUKUL Sebuah Analisis Strukturalisme, Stilistika, Psikologi dan Semiotik - (penulis tidak diketahui)


Wiji Thukul Tonggak Diaspora Sastra Indonesia




Bookmark and Share

Kamis, 04 Agustus 2011

Sajak - Wiji Thukul

Tribute to Wiji Thukul dan Semua Korban Penghilangan Paksa Lainnya-Penculikan. (2)





Sajak

sajakku adalah kata-kata
yang mula-mula menyumpal di tenggorokan
lalu dilahirkan ketika kuucapkan

sajakku adalah kata-kata
yang mula-mula bergulung-gulung
dalam perasaan
lalu lahirlah ketika kuucapkan

sajakku
adalah kebisuan
yang sudah kuhancurkan
sehingga aku bisa mengucapkan
dan engkau mendengarkan

sajakku melawan kebisuan

wiji thukul, solo, 1988





Mengenal Lebih Jauh Wiji Thukul (Artikel, Video dan Karya)

Galeri Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) mempersembahkan 50 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau sekedar ilustrasi) untuk mengenang atau sebagai penghormatan kepada WIJI THUKUL (Tribute to Wiji Thukul)

tujuan kita satu ibu : pembebasan (tribute to wiji thukul)


Bookmark and Share

Wiji Thukul Penyair Kampung - Arief Budiman

TRIBUTE TO WIJI THUKUL

dipublikaskani kembali dalam rangka sebulan penuh memperingati ulang tahun Wiji Thukul yang jatuh pada tanggal 26 Agustus dan hari Anti Penghilangan Paksa Internasional yang jatuh pada tanggal 30 Agustus)




WIJI THUKUL, orang yang menulis kumpulan puisi ini, benar-benar tidak punya potongan seorang penyair. Wajahnya dan sosok tubuhnya lebih merupakan seorang pedagang asongan yang berkali-kali kena gusur. Atau buruh pabrik yang sering di-pehaka, yang hidupnya selalu rawan pangan.

Memang, Wiji anak seorang tukang becak yang lahir di kampung Sorogenen, Solo pada tahun 1963. Hidupnya berlumuran kemiskinan. Sampai sekarang, bapaknya masih tetap membecak, menelusuri jalan-jalan di kota antik ini. Beberapa sajaknya melukiskan penderitaan sang bapak.


aku sudah keliling kota
aku sudah kerja keras
tapi kalah dengan bis kota
hari ini aku cuma dapat uang setoran
(balada pak bejo)

Tapi, dia tidak pernah merasa malu punya bapak yang seperti ini. Bahkan, kepada kekasihnya, dia berpesan:

jangan lupa kekasihku
jika kau ditanya siapa mertuamu
jawablah: yang menarik becak itu
itu bapakmu kekasihku

(jangan lupa kekasihku)


selengkapnya


Tribute to Wiji Thukul (dan Semua Korban Penghilangan Paksa Lainnya) : KAWAN MOHON BANTUANNYA untuk menyebarluaskan publikasi artikel, puisi, video, karya rupa di blog ini dan page facebook Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit dalam rangka sebulan penuh memperingati ulang tahun Wiji Thukul 26 Agustus dan hari Anti Penghilangan Paksa Internasional yang jatuh pada tanggal 30 Agustus. ditunggu juga kontribusinya. salam hangat, salam pembebasan


Bookmark and Share

Bunga dan Tembok - Wiji Thukul

Tribute to Wiji Thukul dan Semua Korban Penghilangan Paksa Lainnya-Penculikan. (1)




Bunga dan Tembok

oleh Wiji Thukul


Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri

Jika kami kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami tebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakina: engkau harus hancur!

Dalam keyakinan kami
Dimanapun – tirani harus tumbang!

(1987-1988)






Mengenal Lebih Jauh Wiji Thukul (Artikel, Video dan Karya)

Galeri Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) mempersembahkan 50 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau sekedar ilustrasi) untuk mengenang atau sebagai penghormatan kepada WIJI THUKUL (Tribute to Wiji Thukul)

tujuan kita satu ibu : pembebasan (tribute to wiji thukul)

Bookmark and Share

tujuan kita satu ibu : pembebasan (tribute to wiji thukul)

Sebulan penuh mengenang dan memperingati ulang tahun Wiji Thukul 26 Agustus dan hari Anti Penghilangan Paksa Internasional yang jatuh pada tanggal 30 Agustus.





Galeri Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) mempersembahkan 50 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau sekedar ilustrasi) untuk mengenang atau sebagai penghormatan kepada WIJI THUKUL (Tribute to Wiji Thukul) hingga 24 Agustus (hari lahinya). Kami juga mengundang anda untuk turut menyumbangkan karya rupa, puisi, artikel dan catatan pendek anda. Anda juga dapat membagikan foto-foto kenangan, video melalui page berikut ini :

Tribute to Wiji Thukul - Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit


(anda dapat menengok page ini walau anda tidak memiliki account facebook)

Bila tidak ada halangan kami merencanakan melakukan pameran ‘gerilya’ di sekitar tanggal kelahiran Wiji Thukul nanti. Kami mengundang pula kawan-kawan untuk melakukan berbagai inisiatif terkait gagasan Tribute to Wiji Thukul ini. Semoga ini bisa menjadi kado yang bermakna untuk Wiji Thukul, keluarga besarnya, sekaligus sebagai kado untuk peringatan proklamasi kemerdekaan dan tentunya kado untuk rakyat Indonesia yang ditindas dan dimiskinkan. Di belakang gagasan ini kami juga memimpikan Wiji Thukul dapat kembali menjadi inspirasi untuk meneguhkan perjuangan pembebasan kita dan menguatkan konsolidasi persatuan gerakan.

NARASI WIJI THUKUL
tujuan kita satu ibu : pembebasan

disini
kubaca kembali
: sejarah belum berubah!

tanah air digadaikan
masa depan rakyat di gelapkan
(dan)
derita sudah naik ke leher
kau
menindas
sampai di luar batas
(dan)
derita sudah matang
bahkan busuk
tetap ditelah?

maka hanya ada satu kata : lawan!

kita tidak sendirian
kita satu jalan
tujuan kita satu ibu : pembebasan

satu mimpi, satu barisan
(maka)
jika kami bunga
engkau adalah tembok itu
telah kami sebar biji-biji
suatu saat kami akan tumbuh bersama
dengan keyakinan : engkau akan hancur!

kutundukkan kepalaku
kepada semua kalian para korban
sebab hanya kepadamu kepalaku tunduk
kepada penindas
tak pernah aku membungkuk
aku selalu tegak

(petikan2 puisi Wiji Thukul : kuburan purwoloyo, bunga dan tembok, peringatan, tujuan kita satu ibu, derita sudah naik seleher, busuk dan momok hiyong)


Hanya satu kata, lawan! Kalimat pendek itu lebih dikenali ketimbang Wiji Thukul, penyair yang menuliskan puisi perlawanan tersebut. Hanya sata kata, lawan! telah menjadi semacam roh bagi kebangkitan jiwa-jiwa yang mencoba menemukan kembali jati dirinya, yaitu sebuah kekuatan melawan rezim otorritarianisme. Ia telah menemukan api bagi sebuah simbol perlawanan (Munir)

Membaca puisi Wiji Thukul adalah membaca ottobiografi kejiwaan penyair. Dia menceritakan nasib jutaan rakyat Indonesia yang dimiskinkan oleh proses pembangunan yang terlalu menguntungkan kaum elitnya (Arif Budiman)

Wiji sudah selayaknya mendpt penghargaan pertama-tama dan utama atas apa yang dilakukannya dalam pemajuan dan perlindungan hak azasi manusia. Penghargaan ini juga menjadi lonceng peringatan bagi kita semua bahwa penghilangan orang secara paksa adalah kejahatan yang masih berlangsung. Lonceng yang mengingatkan bahwa kita semua berutang kepada keluarga, sahabat, dan kekasih dari orang yang dihilangkan di negeri ini. Tentulah jangan dilupakan bahwa yang paling berutang adalah negara, terutama pemerintah (Asmara Nababan, Kompas 11/12/2002)


Mengenal Lebih Jauh Wiji Thukul (Artikel, Video dan Karya)




Bookmark and Share


Bookmark and Share