Perempuan itu rebah diatas hamparan pasir,
Dibawah langit bertabur sejuta bintang,
Pada malam dia bercerita,
Tentang jiwa, cinta, tawa, luka dan air mata,
Pada langit dia bertanya,
Tentang perempuan, rahim, janin dan kehidupan,
Perempuan itu rebah di tepian samudera,
Gemuruh ombak adalah nyanyiannya,
Matanya merah menyimpan bara,
Jiwanya adalah kesunyian telaga,
Dengan tubuh meringkuk dia memeluk perutnya,
Pada janin dalam rahimnya dia berkisah,
Tentang jiwa, cinta, tawa, luka dan air mata,
Perempuan itu rebah berselimut malam,
Pada sejarah kelam dia menyimpan bara,
Pada masa depan dia menggenggam asa,
Dia akan melahirkan anak sejuta bintang,
anak yang bermandikan cahaya bulan,
bapaknya adalah kehidupan,
yang mengajarkannya berjuang, melawan juga memafkan,
Perempuan itu rebah dengan luka yang menganga,
Dia masih menyimpan amarah,
Pada laki-laki yang menorehkan sejarah,
Yang mengenalkannya pada malam,
Dan meninggalkannya saat malam,
Seperti seorang pengecut,
Yang menyelinap saat peluh lepas bercinta,
Menghantarkannya pada lelap dan mimpi panjang,
Perempuan yang rebah itu,
Tertidur dalam dekapan malam,
Janin di rahimnya meringkuk dengan tangan terkatup,
Mengirimkan pesan pada kehidupan,
Agar cinta kembali dilahirkan,
untuk perempuan yang meminjamkan rahimnya,
dan memberinya makan lewat seutas tali pusar,
sambil terus bertanya;
‘’harus kusebut apakah perempuan, kekasih sang malam ini..?’’
‘’lukakah hatinya, jika aku memanggilnya IBU…?’’
Ajeng Kesuma, Bgr, 11.07.11
*lukisan andreas iswinarto







