sobat bagi anda yang suka menulis fiksi ataupun non-fiksi entah prosa maupun puisi melalui social network facebook atau blog dll, atau untuk penulisan propaganda/kampanye kami memilki lebih dari 1000 gambar/lukisan digital yang bisa anda gunakan untuk ilustrasi karya-karya anda. rasanya akan lebih elok bila tulisan anda diperindah/diperkuat dengan ilustrasi ini. tentunya jangan lupa cantumkan link atau urlnya (galeri rupa lentera di atas bukit), dan pastinya diluar untuk tujuan komersial atau diperjualkan belikan. tabik andre


Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit



Selasa, 11 Oktober 2011

Perempuan Kekasih Malam (Puisi Ajeng Kesuma)

Perempuan Kekasih Malam




Perempuan itu rebah diatas hamparan pasir,
Dibawah langit bertabur sejuta bintang,
Pada malam dia bercerita,
Tentang jiwa, cinta, tawa, luka dan air mata,
Pada langit dia bertanya,
Tentang perempuan, rahim, janin dan kehidupan,

Perempuan itu rebah di tepian samudera,
Gemuruh ombak adalah nyanyiannya,
Matanya merah menyimpan bara,
Jiwanya adalah kesunyian telaga,
Dengan tubuh meringkuk dia memeluk perutnya,
Pada janin dalam rahimnya dia berkisah,
Tentang jiwa, cinta, tawa, luka dan air mata,

Perempuan itu rebah berselimut malam,
Pada sejarah kelam dia menyimpan bara,
Pada masa depan dia menggenggam asa,
Dia akan melahirkan anak sejuta bintang,
anak yang bermandikan cahaya bulan,
bapaknya adalah kehidupan,
yang mengajarkannya berjuang, melawan juga memafkan,

Perempuan itu rebah dengan luka yang menganga,
Dia masih menyimpan amarah,
Pada laki-laki yang menorehkan sejarah,
Yang mengenalkannya pada malam,
Dan meninggalkannya saat malam,
Seperti seorang pengecut,
Yang menyelinap saat peluh lepas bercinta,
Menghantarkannya pada lelap dan mimpi panjang,





Perempuan yang rebah itu,
Tertidur dalam dekapan malam,
Janin di rahimnya meringkuk dengan tangan terkatup,
Mengirimkan pesan pada kehidupan,
Agar cinta kembali dilahirkan,
untuk perempuan yang meminjamkan rahimnya,
dan memberinya makan lewat seutas tali pusar,
sambil terus bertanya;
‘’harus kusebut apakah perempuan, kekasih sang malam ini..?’’
‘’lukakah hatinya, jika aku memanggilnya IBU…?’’


Ajeng Kesuma, Bgr, 11.07.11

*lukisan andreas iswinarto

Bookmark and Share

Option For The Poor (Mengenang Romo Mangunwijaya)

Gereja Pembebasan, Gereja Kaum Miskin





[aku berada di jalan ini karena dibukakan oleh rasa terpukau dan rasa haru (puluhan tahun lalu) pada kasihnya yang luar biasa untuk kaum hina papa, warga kedung ombo, warga kali code, para tukang becak jakarta.....]





lukisan oleh andreas iswinarto

Bookmark and Share

Senin, 10 Oktober 2011

Ooohh, Anak-anak Kami (Puisi Ajeng Kesuma)

Anak-anak kami meringkuk dalam periuk berjelaga,
Lelah dan lelap selepas mengais butiran nasi yang mengerak,
Tak tahu mereka rasanya lapar,
Sebab kenyang tak pernah singgah ke perut kami.


Anak-anak kami berenang di tengah pusaran air beracun,
Membersihkan tubuh dengan air limbah menambah hitamnya daki,
Tak tahu mereka beningnya air,
Sebab kami tak mampu membayar air jernih dalam pipa dan galon-galon.


Anak-anak kami bergaris mata hitam, cekung dan kosong,
menatap lekat yang sangat dekat,
Tak dapat mereka memandang jauh ke depan,
Sebab kami tak punya sesuatu untuk masa depan.



karya rupa oleh andreas iswinarto - galeri rupa lentera di atas bukit


Anak-anak kami nakal, bengal dan melawan,
Dengan makian dan sumpah serapah mereka bicara,
Tak dapat mereka bicara santun,
Sebab kami terbiasa mendapat hadiah caci, maki dan hujatan.


Anak-anak kami lahir dari jenis spesies yang sama,
Janin mereka tumbuh dalam rahim dari sperma manusia,
Tak pernah kami menyakiti binatang,
Tapi kami dipandang jijik, diperlakukan keji, seperti binatang.


Ooooohhhh…….,
Anak-anak kami,
Anak-anak kami,
Mari memandang bulan dan matahari,
Agar kita masih bisa menikmati keindahan,
Dan merasakan kehangatan,
Sekalipun kita tahu,
kehangatan jiwa dan keindahan hati kita
melebihi matahari dan rembulan.

(Sepoci Seduhan Puisi untuk pojok hati yang tersayat)



Ajeng Kesuma, Bgr, 210911.







Bookmark and Share