Galeri Rupa Lentera di Atas Bukit (kerja.pembebasan) [@kerjapembebasan] mempersembahkan 100 karya rupa (visualisasi puisi Wiji atau ilustrasi) untuk mengenang atau sebagai penghormatan kepada WIJI THUKUL (Tribute to Wiji Thukul – MELAWAN LUPA) . Semoga ini bisa menjadi kado yang bermakna untuk Wiji Thukul, keluarga besarnya, sekaligus kado untuk rakyat Indonesia yang ditindas dan dimiskinkan. Di belakang gagasan ini kami juga memimpikan sajak-sajak Wiji Thukul dapat kembali menjadi inspirasi untuk meneguhkan perjuangan pembebasan kita dan menguatkan konsolidasi persatuan gerakan. hanya satu kata : LAWAN!

Rabu, 01 Februari 2012

Seri Perlawanan Rakyat (1) : Seuntai Awan Kecil dari Hutan Lacondon Chiapas, Mexico

Sekilas mexico yang berlawan bersama Mural Sejarah Mexico karya Diego Rivera (1), karya-karya Rupa Diego Rivera (2) dan Frida Kahlo (3), EZLN – Himne Zapatista (4), Film Dokumentasi Emiliano Zapata (5), A Place Called Chiapas-EZLN (6), Manu Chao - EZLN... Para Todos Todo... Pesan EZLN ... Semuanya untuk Semua ... (7), musisi Rage against The Machine (Rage) - Zapata Blood (8), Kisah Seuntai Awan Kecil serta Riwayat Warna yang ditulis Subcomandante Marcos – EZLN Zapatista (9), AIKONISASI ZAPATISTA : Menyaksikan Pesona Muchas Trampas Politicas – Noer Fauzy Rahman (Mengenal lebih jauh Gerakan Zapatista dan sumbangan untuk gerakan sosial global.) (10).
Serial-serial perlawanan di berbagai Negara lain segera menyusul (termasuk Indonesia tentu)……..


karya diego rivera



sekilas mexico berlawan (1) - mural sejarah mexico oleh diego rivera




sekilas mexico berlawan (2) - karya-karya rupa diego rivera




sekilas mexico berlawan (3) : karya-karya rupa frida kahlo




sekilas mexico berlawan (4) : himne gerakan perlawanan zapatista




sekilas mexico berlawan (5) : emilio zapata pejuanga melawan kolonial sebagai sumber inspirasi gerakan perlawanan masyarakat adat zapatista




Sekilas mexico berlawan (6) A Place Called Chiapas-EZLN




Sekilas Mexico Berlawan (7) Manu Chao - EZLN... Para Todos Todo... Pesan EZLN ... Semuanya untuk Semua ...




sekilas mexico berlawan (8) : Zapata's Blood - Rage Against the Machine (RAM)


Battle of Mexico - Zapata's Blood

Zapata's blood
Wasn't spilt in vain
So now the most poor wage war
To reclaim their name
Zapata's blood Wasn't spilt in vain
So now the most poor wage war
To reclaim their terrain
On January 1st , 1994
The indigenous farmers of Southern Mexico
Declared war on an unjust
and illegitimate government
Out of the debt of the most wild, the most poor
Came a just arm struggle
for democracy, justice, and liberty
And it won't stop until that 65 year old dictatorship,
the Partido Revolucionario Institucional
(Institutional Revolutionary Party) is buried in the
ground
and the people's voice is heard once again
Yeah
So check it out:
On January 1st, of 94 they became known as
the Zapatista movement
And they have a saying, and I want you all to
sing along with me real quick.
It goes something like this
It goes everything for everyone...
and nothing for ourselves.
Everything for everyone, and nothing for ourselves.
Everything for everyone, and nothing for ourselves.
Everything for everyone, and nothing for ourselves.
Yeah, sing that shit...
Everything for everyone, and nothing for ourselves.
Everything for everyone, and nothing for ourselves.
Everything for everyone, and nothing for ourselves.
Everything for everyone, and nothing for ourselves...




sekilas mexico berlawan (9) : Kisah Seuntai Awan Kecil dan Riwayat Warna (ditulis Subcomandante Marcos - EZLN- Zapatista - 7 November 1997) dipetik dari kitab Kata Adalah Senjata, suntingan Ronny Agustinus (Resist Book 2005)

Kisah Seuntai Awan Kecil

lkisah, hiduplah sebuah awan yang sangat keil dan
sangat kesepian dan bisa berkeliaran jauh-jauh dari
awan-awan besar. Ia sangat kecil, nyaris tak sampai
seuntai. Dan manakala awan-awan besar menajdikan diri
mereka hujan untuk mengecat hijau pegunungan, si awan
kecil akan terbang mendekat untuk menawarkan jasanya.
Tapi mereka mengoloknya karena ia begitu kecil.

"Kau tak punya apa-apa buat diberikan", awan-awan
besar biasa memberitahunya. "Alangkah kecilnya
dirimu".

Mereka mengoloknya menjadi-jadi. Lantas, dengan sangat
sedih si awan kecil mencoba menyingkir ketempat lain
untuk menjadikan dirinya hujan, tapi kemanapun dia
pergi, awan-awan besar mendesaknya minggir. Maka si
awan kecil pergi lebih jauh lagi sampai ia tiba di
tempat yang sangat kering kerontang, saking keringnya
sampai tak satu pun dahan tumbuh, dan si awan
kecil berkata pada cerminnya (aku lupa memberitahumu
bahwa si awan kecil ini membawa-bawa cermin agar ia
bisa bicara dengan dirinya sendiri saat sedang
sendirian) :

"Ini lokasi sempurna untuk menjadikan diriku hujan
karena tak seorang pun pernah datang kemari."

Si awan kecil mengerahkan banyak upaya untuk
menjadikan dirinya hujan, dan akhirnya menelurkan satu
tetes kecil. Begitulah, si awan kacil lenyap dan
mengubah dirinya jadi setetes hujan kecil. Sedikit
demi sedikit, si awan kecil, yang kini tetes hujan
kecil, jatuh meluncur. Dalam segenap kesepiannya, ia
jatuh dan jatuh, tapi tak ada yang manantikannya di
bawah sana. Akhirnya, tetes hujan kecil itu menciprat
sendirian. Karena padang pasir itu begitu lengang, si
tetes hujan kecil menimbulkan kebisingan hebat waktu
menciprat tepat di atas batu. Ia membangunkan bumi
yang bertanya:

"Ribut-ribut apa itu?"
"Tetes hujan jatuh," kata batu.
"Tetes hujan? Artinya hujan bakal turun! Lekas!
Bangun! Hujan akan turun!" ia mengingatkan tetumbuhan
yang sembunyi di bawah tanah dari terik mentari.

Maka tumbuh-tumbuhan pun bangun dan mengintip, dan
untuk sesaat seisi padang pasir tersaput warna hijau,
dan awan-awan besar pun melihat hijau itu dari
kejauhan dan berkata:

"Lihat. Ada banyak hijau di sana. Ayo bikin hujan di
tempat itu. Kita tidak tahu disana bagitu hijau."

Maka pergilah mereka menjadikan dirinya hujan di
tempat yang dulunya padang pasir. Mereka curahkan
hujan dan hujan, dan tanaman pun tumbuh dan segala
sesuatu berubah hijau sekaligus.

"Mujur nian kita ada di sekitar sini," ucap awan-awan
besar. "Tanpa kita, tak bakal ada hijau."

Dan waktu itu, tak seorang pun teringat akan seuntai
awan kecil yang mengucurkan setetes hujan kecil yang
cipratannya membangunkan mereka yang tertidur.

Tak seorang pun ingat, tapi si batu menyimpan rahasia
awan kecil itu. Waktu berlalu, dan awan-awan besar
pertama itu pun lenyap dan tanaman-tanaman pertama itu
pun mati. Dan batu, yang tak pernah mati, memberitahu
tanaman-tanaman baru yang terlahir dan awan-awan baru
yang tiba kisah mengenai seuntai awan kecil yang
mengucurkan setetes hujan kecil.


RIWAYAT WARNA

Pak Tua Antonio menunjuk seekor kakatua yang terbang melintasi sore. ”Lihat,” katanya.Kulihat warna-warni menyala itu menentang latar kelabu badai yang
mengabarkan kedatangan dirinya. ”Mustahil rasanya begitu banyak warna datang dari cuma satu ekor burung,” kataku sambil menggapai puncak bukit. Pak Tua Antonio duduk di ceruk kecil yang bersih dari lumpur di jalur utama. Ia mengambil nafas sambil melinting rokok baru. Beberapa langkah ke depan, aku sadar ternyata ia masih tetap disitu. Aku kembali lalu duduk disampingnya. ”Menurutmu kita bakal sampai di kota
sebelum hujan?” tanyaku sambil menyalakan api. Pak Tua Antonio sepertinya tidak mendengar. Sekarang sekumpulan toucan menarik perhatiannya. Ditangannya, rokok menunggu nyala api melukis asap perlahan-lahan. Ia berdehem-dehem, menyalakan rokok dan duduk senyaman mungkin, lalu perlahan memulai.

”Kakatua tidak senantiasa seperti itu. Ia dulu hamper tak berwarna. Bulunya pendek-pendek, mirip ayam basah kuyup. Salah satu diantara begitu banyak burung yang
tak seorang pun tahu bagaimana mereka bisa sampai ke dunia, sebab para dewa pun tak tahu siapa yang mencipta mereka atau bagaimana mereka diciptakan. Ada begitu saja.

Para dewa membangunkan malam dan berkata kepada siang ”cukup disini dulu”, maka orang-orang lelaki dan perempuan pun pergi tidur dan bercinta – cara yang indah untuk membuatmu capek agar pulas terlelap. Dewa-dewa ini berkelahi, dewa-dewa ini
selalu berkelahi sebab mereka itu para petarung, bukan seperti dewa-dewa pertama itu, tujuh dewa yang melahirkan dunia, yang paling mula. Para dewa berkelahi sebab dunia begitu membosankan cuma dengan dua warna yang melukisinya. Dan kemarahan dewa itu ada benarnya sebab Cuma ada dua warna di dunia: yang satu hitam yang merajai malam dan satunya lagi putih yang menjalani siang, dan yang ketiga sama sekali tidak
bisa disebut warna, kelabu yang melukisi petang dan subuh agar hitam dan putih tidak anjlok terlalu keras. Namun selain gemar berkelahi, dewa-dewa ini juga penuh pengetahuan. Dalam suatu rapat, mereka memutuskan untuk membuat warna lebih panjang agar berjalan dan bercinta jadi lebih menyenangkan bagi orang-orang
lelaki dan perempuan itu. Salah satu dewa ini mulai berjalan untuk bisa
merenungkan pikirannya dalam-dalam dan ia berpikir begitu keras sampai tidak melihat kemana langkahnya. Ia tersandung batu sebesar ini dan kepalanya terantuk lalu darahpun mengalir keluar dari sana. Dan dewa itu, setelah mengaduhaduh sesaaat, ,menatap darahnya dan melihat warna yang berbeda dari dua warna tadi, maka ia pun lari ke tempat dewa-dewa lainnya dan menunjukkan pada mereka warna baru itu dan mereka menamainya ”merah”, maka warna ketiga lahirlah. Kemudian, dewa yang lain lagi sedang mencari-cari warna untuk melukisi harapan. Ia menemukannya sebentar
kemudian, ia pergi dan menunjukkannya pada sidang para dewa, dan mereka namai warna ini ”hijau”, yang keempat. Yang lain lagi mulai mengais-ngais bumi begitu rupa. ”Kau sedang apa?” dewa-dewa lain bertanya padanya. ”Mencari jantung bumi,” jawabnya sambil melempar lumpur ke sembarang tempat. Tak lama kemudian ia temukan jantung bumi dan menunjukkannya pada para dewa-dewa lainnya, dan mereka namai warna kelima ini ”coklat”. Dewa yang lainnya pergi setinggi yang ia bisa. ”Aku ingin tahu warna dunia,” katanya, dan ia mendaki dan terus mendaki sampai jauh ke atas sana.

Saat tiba nun jauh disana , ia memandang kebawah dan melihat dunia, tapi ia tidak tahu bagaimana membawanya turun ke tempat para dewa, maka ia terus menatapnya sampai sekian lama, sampai ia buta, sebab kini warna dunialah yang menempel dimatanya. ”Kubawa warna dunia di mataku.,” dan mereka menyebut yang keenam itu ”biru”. Dewa yang lain sedang mencari-cari warna saat ia dengar seorang anak tertawa, dan dengan hati-hati ia pun mendekat. Ketika anak itu lengah ia curi senyumnya dan membuatnya menangis. Konon tiu sebabnya anak kecil bisa mendadak tertawa mendadak menangis.
Dewa itu membawa tawa anak itu dan mereka namai warna ketujuh itu ”kuning”. Sampai disitu para dewa kelelahan dan pergi makan pozol lalu tertidur. Mereka tinggalkan warna tadi dalam kotak kecil yang dilempar ke bawah pohon kapuk.

Tapi kotak kecil itu tidak tertutup rapat dan warna-waran pun menyebar keluar dengan riang gembira bermain-main dan bercinta, lalu warna-warna baru yang berbeda-beda bermunculan. Pohon kapuk itu melihatnya. Ia tudungi mereka semua agar hujan tidak melibas aneka warna tersebut. Dan ketika para dewa tiba disana yang ada bukan Cuma tujuh warna namaun banyak sekali, dan mereka memandang pohon kapuk itu lalu berucap, ”Kau lahirkan warna-warna, kau asuh bumi ini sehingga dari kepalamulah kami akan melukisi dunia”.

Mereka pun memanjat sampai ke pucuk pohon kapuk dan dari sana mereka melemparkan warna seenaknya saja. Biru mendarat sebagian di langit sebagian di laut, hijau menjatuhi bumi, dan kuning-yang dulunya tawa seorang anak-terbang jauh melukisi matahari. Merah mendarat di mulut oarang dan binatang dan mereka pun memakannya sampai segal sesuatu di dalam diri mereka berwarna merah. Hitam dan putih sudah ada di dunia.
Sungguh kacau balau waktu itu ketika para dewa melempar-lempar warna, , mereka bahkan tak melihat ke arah mana mereka lempar, dan beberapa warna terpercik di tubuh orang-orang dan itu sebabnya orang punya warna berbeda-beda dan pikiran berbeda-beda (suku, agama, ras juga kan. cat saya)

Sejenak kemudian para dewa itu lelah dan ingin kembali tidur. Dewa-dewa ini, yang bukan dewa-dewa pertama yang melahirkan dunia, Cuma ingin tidur. Maka, agar tidak lupa dan kehilangan warna-warna itu, mereka mencari cara menyimpannya. Dan saat mereka renungkan dalam hati bagaimana melakukannya, seketika itulah mereka lihat seekor kakaktua. Mereka renggut ia dan menaruh semua warna disana. Mereka buat bulu-bulunya lebih panjang agar semua warna bisa masuk. Begitulah mulanya kakatua mendapat warna dan seperti itulah ia jadinya, agar orang-orang lelaki dan perempuan tidak lupa bahwa ada banyak warna dan banyak pikiran di dunia ini, agar dunia gembira saat semua warna dan semua pikiran punya tempatnya sendiri-sendiri.

(dikutip dari Bayang Tak Berwajah, Ronny Augustinus, Insist 2003)



karya diego rivera


Sekilas Mexico Berlawan (10) - Mengenal lebih jauh Gerakan Zapatista dan sumbangan untuk gerakan sosial global. AIKONISASI ZAPATISTA : Menyaksikan Pesona Muchas Trampas Politicas

AIKONISASI ZAPATISTA :

Menyaksikan Pesona Muchas Trampas Politicas*

(istilah dalam bahasa Spanyol yang kurang lebih bermakna praktik yang cerdas melakukan manuver-manuver dan siasat-siasat untuk membuka, menerobos, membuat dan memanfaatkan peluang politik. Tapi, dalam penggunaan lain bisa juga berarti terperangkap setelah melakukan pembukaan, penerbososan dan pemanfaatan peluang politik)

Pengantar Noer Fauzi untuk Buku Bayang Tak Berwajah (Dokumen Perlawanan Tentara Pembebasan Nasional Zapatista) Insist Press 2003

Ketahuilah! Bahwa tanah, hutan, dan air yang telah dirampas oleh para penguasa hacienda, cientifico, atau cacique melalui tirani kekuasaan dan tipuan hukum, akan dikembalikan dengan segera pada rakyat atau warga yang berhak atas kekayaan itu, sebab, se¬sungguhnya mereka itu dianiaya oleh kejahatan para penindas. Mereka mesti mempertahankan miliknya itu dengan sepenuh hati melalui kekuatan bersenjata. (Zapata, November 1911)

Setelah ditunda beberapa kali dengan berbagai alasan yang melatarbelakanginya, Tentara Pembebasan Nasional Zapatista memasuki San Cristobal beberapa menit sesudah tengah malam pada 1 Januari, 1994 ("Seperti biasa kami ter¬lambat," jelas Komandante Marcos), mengumumkan 'Deklarasi Hutan Lacondon' dari balkon istana pemerintah, memporak¬porandakan balai kota, menempelkan proklamasi perang mereka di dinding dinding kota kerajaan lama, menyerang instalasi mili¬ter di dekatnya, lalu berjalan ke gunung gunung, kembali ke basis mereka di hutan.

Dua puluh lima bulan setelah pernberontakan Zapatista mem¬bahana ke seluruh pelosok negeri dari pasar kampung sampai kamar kantor presiden, pada 16 Februari 1996, Tentara Pem¬bebasan Nasional Zapatista dan pemerintah Meksiko menanda¬tangani kesepakatan substantif pertama menuju perdamaian, yang terkenal dengan nama'Perjanjian perjanjian San Andres'. Dalam dokumen perjanjian itu, pemerintah federal menanggapi sebagian tuntutan Zapatista, utamanya hal yang berkaitan dengan hak hak dan budaya masyarakat adat, berupa pengakuan masya¬rakat Indian sebagai subjek sosial dan historis sebagai prinsip kewarganegaraan. Sesungguhnya, dokumen perjanjian itu baru berisikan 1 dari 6 topik yang dirundingkan. Satu topik itu berasal dari meja runding'hak hak budaya'. Selain meja runding 'hak hak budaya' (i), meja meja runding yang tidak berbasil mengeluarkan perjanjian adalah: (2) demokrasi dan keadilan; (3) pembangunan dan kesejahteraan; (4) masalah perempuan; (5) konflik regional; dan (6) demiliterisasi.

Selengkapnya




Bookmark and Share

0 komentar: